Wednesday, November 18, 2009

Kulit oh Kulit

Sebelum kita membahas tentang kulit, kulit itu kepanjangannya "aKU kang nyeliLIT" atau sebuah pemahaman yg seolah olah mendalam padahal masih dangkal, peribahasa jawanya "kawruhe jero tapak meri" artinya "ilmunya lebih dalam jejak anak bebek" dan ujung dari pemahaman yg sebatas kulit adalah aku yg menjadi slilit atau aku yg menghambat perjalanan spiritual kita


08
Lowung kalamun tinimbang,
Ngaurip tanpa prihatin,
Nanging ta ing jaman mangkya,
Pra mudha kang den karemi,
Manulad nelad nabi,
Nayakengrat gusti rasul,
Anggung ginawe umbag,
Saben seba mampir masjid,
Ngajab-ajab tibaning mukjijat drajat. 


09
Anggung anggubel sarengat,
Saringane tan den wruhi,
Dalil dalaning ijemak,
Kiyase nora mikani,
Ketungkul mungkul sami,
Bengkrakan mring masjid agung,
Kalamun maca kutbah,
Lelagone Dandanggendis,
Swara arum ngumandhang cengkok palaran 


10
Lamun sira paksa nulad,
Tuladhaning Kangjeng Nabi,
O, ngger kadohan panjangkah,
Wateke tan betah kaki,
Rehne ta sira Jawi,
Sathithik bae wus cukup,
Aywa guru aleman,
Nelad kas ngepleki pekih,
Lamun pangkuh pangangkah yekti karahmat. 


Terjemahan bait 8-10
Mending bila dibanding orang hidup tanpa prihatin (Lowung kalamun tinimbang, Ngaurip tanpa prihatin), namun dimasa mendatang atau masa kini (Nanging ta ing jaman mangkya) yg menjadi kegemaran anak muda adalah meniru niru nabi atau rasul yg menjadi urusan Tuhan (Pra mudha kang den karemi, Manulad nelad nabi, Nayakengrat gusti rasul) dan hanya dipakai utk menyombongkan diri (Anggung ginawe umbag) maka dari itu setiap akan bekerja/pergi mampir ke masjid (Saben seba mampir masjid) dan mengharap akan keajaiban berupa kenaikan pangkat/derajat (Ngajab-ajab tibaning mukjijat drajat).

Kebanyakan dari orang2 muda ilmunya itu hanya memahami sariat (kulitnya) saja, sedangkan hakekatnya tidak dikuasai (Anggung anggubel sarengat, Saringane tan den wruhi) karena pengetahuan untuk memahami makna dan suri tauladan tidaklah mumpuni (Dalil dalaning ijemak, Kiyase nora mikani) disebabkan lupa diri secara tidak sadar (Ketungkul mungkul sami). Ketika di masjid maka bersikap berlebihan ketika membaca khotbah (Bengkrakan mring masjid agung, Kalamun maca kutbah) dan beririama dandanggula yg menghanyutkan hati (Lelagone Dandanggendis) bersuara merdu bergema gaya lantang dan bertubi tubi (Swara arum ngumandhang cengkok palaran).

Tapi jika memaksa untuk meniru persis perilaku kanjeng Nabi (Lamun sira paksa nulad, Tuladhaning Kangjeng Nabi) maka itu sungguh naif dan tidak akan betah (O, ngger kadohan panjangkah, Wateke tan betah kaki) karena kita orang jawa maka seperlunya saja sudah cukup dan tidak usah untuk mencari sanjungan (Rehne ta sira Jawi, Sathithik bae wus cukup, Aywa guru aleman). Tapi apabila mampu mencontoh dan mengikuti fiqih maka memang ada pahala tersendiri dan mendapat rahmat (Nelad kas ngepleki pekih, Lamun pangkuh pangangkah yekti karahmat).


Bahaya fanatisme
Kali ini kita akan membahas tentang fanatisme ditinjau dari aspek psikologis yg mengindikasikan bahwa asal dari konflik adalah fanatisme. Fanatisme atau golongan yg fanatik terhadap ideologi maka mempunyai perbendaharaan kalimat yang umum yaitu “jika aku benar maka kamu salah”, “jika aku benar maka kamu harus ikut aku”, “bener aku luput kowe” dll, maka fanatisme ini hanya masih pada tataran nandhing sarira. Kami (penulis) punya beberapa klasifikasi tentang fanatisme :

fanatisme kulit/permukaan
fanatisme model ini masih pada tataran yg agak mendingan, mudah untuk sembuh tapi jangan sekali2 disepelekan, awal dari fanatisme ini adalah ikut2an karena merasa memiliki jiwa muda yg penuh semangat dan agresif. Fanatisme model seperti ini biasa menjangkiti anak muda yg ikut2an terhadap pendapat kyai A atau ustadz B, tapi untungnya fanatisme tahapan ini masih takut untuk berjuang 'membela” ideologinya karena masih tataran sekedar ikut2an supaya kelihatan gagah dan juga karena masih belum menemukan jati dirinya. Jadi “beruntunglah” apabila kita membaca suatu buku karangan si A lalu cepat2 memvonis yg dibicarakan di buku itu dengan vonis sama2 memojokkan tanpa telaah lebih lanjut, maka kita sudah masuk fanatisme model ini.

Fanatisme daging

fanatisme model ini biasanya menjangkiti orang2 yg “lapar' baik perutnya maupun lapar akan kekuasaan dan minyak bumi. Bagi yg lapar perutnya maka dia berharap dengan mengikuti aliran A maka hidupnya akan lebih baik, fanatisme model ini lebih dari sekedar ikut2an karena sudah menyangkut masalah perut/perubahan nasib dan juga biasanya punya nyali besar dan berwatak nekad. Para pengebom bunuh diri itu masuk pada fanatisme model ini karena mereka berharap setelah mengebom maka akan berharap imbalan setimpal yaitu surga, surga inilah yg diharapkan menjadikan nasibnya lebih baik ketimbang hidup di dunia yg serba susah menurut dia.


Bagi yg lapar akan minyak bumi atau kekuasaan maka fanatisme model daging ini berubah bentuk menjadi fanatisme kepentingan, didalam fanatisme kepentingan ini yg sejalan atau punya kepentingan sama maka akan menjadi kawan, yang menentang kepentingannya maka menjadi lawan tidak peduli akapah dia itu muslim, kristen, hindu, budha, atheis, kafir dsb asal sejalan maka dianggap “beragama” sama dan yg tidak sejalan dianggap “tidak seagama” walaupun beragama sama, ini biasa dilakukan oleh sebuah negara adikuasa yg memiliki sekutu yg “seagama” yaitu agama “kepentingan”.

Baik yg dilakuakan perseorangan/kelompok maupun pada level negara keduanya sama2 masuk pada fanatisme model ini, yg membedakan adalah skala dan sumber dayanya. Yang perseorangan/kelompok jelas terbatas sumber dayanya berupa dana maupun tenaga, sedangkan yg dilakukan pada level negara punya sumber daya yg mumpuni dan tak terbatas maka mereka pun bisa merancang skenario besar utk menjatuhkan suatu rezim. Baik yg skala kecil maupun besar keduanya punya motif yg sama yaitu perubahan nasib dan inilah yang disebut teroris.

Fanatisme tulang

Apabila fanatisme daging itu sebagai eksekutor maka fanatisme model ini adalah sebagi inspirator. Sebagai contoh, kelompok teroris A terisnpirasi oleh ceramah atau ide2 dari ustadz B maka ustadz B bisa dikategorikan sebagai fanatisme model ini dengan catatan ustadz B sengaja menyebarkan fahamnya supaya orang2 yg ikut dengan fahamnya bertindak sesuai keinginannya, misalnya perekrutan para “calon pengantin bom”, para calon pengantin di doktrin atau di ceramahi dengan seindah mungkin di iming imingi ini itu yg intinya kalau ingin mendapatkan nasib lebih baik diakherat maka harus ikut cara dia, maka bisa dikatakan para calon pengantin tsb telah terinspirasi oleh ceramah2 dan doktrin2 ustadz B supaya menjadi “pengantin bom”.

Pada skala besar, inspirator ini bisa menjadikan suatu negara berfaham tertentu misalnya komunis atau liberalis/kapitalis. Contohnya si A mengarang atau merumuskan suatu ide atau gagasan tentang sebuah revolusi di negaranya bahkan dunia maka si A dengan segala cara dibelakang layar sebisa mungkin berupaya membuat suatu negara tsb ikut dengan ide2nya., tentu saja para inspirator itu tidak punya kekuatan utk memaksakan suatu ide kepada eksekutor maka dibujuklah eksekutor dalam hal ini kepala pemerintahan atau parlemen utk ikut kedalam faham si A, apabila sudah berhasil maka dibuatlah undang2 oleh parlemen dan dilaksanakan oleh si kepala pemerintahan/presiden/raja. Para inspirator ini juga beragama layaknya umat beragama lain, yg membedakan adalah persepsi tentang Tuhannya, Tuhan para inspirator ini dipersepsikan olehnya sebagai Tuhan yg selalu mendukung segala ide dan perjuangannya, dalam arti lain Tuhan para inspirator ini “didikte” untuk ikut mendukung perjuangannya dan ide2nya, makia bisa dikatakan para inspirator ini menyembah Tuhan persepsinya sendiri bukan Tuhan yg sebenarnya “tan kena kinaya ngapa” (tidak ada suatu dayapun atas diriNya).

Ruh fanatisme

ini adalah sang kreator dari segala bentuk fanatisme, dialah yg merancang suatu rencana besar dan terintegrasi kedalam kulit, eksekutor maupun inspirator. Sesuai namanya ruh fanatisme maka bersifat metafisis atau abstrak tidak bisa dipegang tapi hasil “karya agungnya” terlihat sangat nyata yaitu kerusakan2 dimuka bumi akibat perang maupun eksplorasi sumber daya bumi secara besar2an. Tuhan dari sang kreator tak lain adalah dirinya sendiri, dia bersyahadat “tiada Tuhan selain aku” sedangkan syahadat Allah “tiada Tuhan selain Aku” bandingkan keduanya dimanakah letak perbedaannya? Bedanya terletak di a pada “aku” dan A pada “Aku”, apa bedanya a kecil dan A besar? A kecil itu mengindikasikan suatu pengakuan sepihak, apabila aku (Tono) tuhan maka tuhan adalah aku (Tono), tapi bila Aku adalah Tuhan maka Tono dan alam beserta isinya sudah tidak ada lagi karena Aku sudah meliputi semua segala ciptaanKu.

Analogi yg agak2 mirip yaitu : apabila sebuah sel ditubuh Tono itu sudah sadar akan keberadaan Tono mak si sel itu akan mengakui bahwa dia adalah bagian Tono bersama dengan semua sel2 lain serta ruh akan bersaksi “aku Tono” ketika bersaksi dengan kesaksian tsb maka tidak ada lagi “aku tangan”, “aku kaki”, “aku mulut” semua sudah melebur jadi satu yaitu Tono sejati, tapi apabila ditunjuk maka akan mengacu ke bagian dari Tono, ketika ditunjuk mengarah ke hidung maka itu hidung Tono, ketika mengarah ke tangan maka itu tangan Tono dll. Maka itulah analogi dari Tuhan sejati yg tidak bisa ditunjuk, apabila ditunjuk akan mengacu ke makhluk, kan aneh juga apabila satu sel sangat kecil mengaku aku Tono sejati padahal dia itu sangatlah kecil dibanding tubuh Tono yg besar, ini hanya sebuah analogi utk membedakan antara aku dan Aku.

Nah kembali ke sang kreator, sang kreator ini didalam agama islam disebut Dajjal, ada versi yg mengatakan dajjal itu Musa Samiri di jaman nabi Musa as, ada juga yg mengatakan Umu Sebyan di jaman nabi Sulaiman as, dan mungkin ada juga versi2 lainnya, tapi yg paling penting Dajjal itu adalah sebuah sistem yg bersekutu dengan Iblis (ego kesombongan) dan menciptakan berbagai kerusakan didunia, maka bisa diambil kesimpulan bahwa sumber dari segala fanatisme adalah kesombongan.


Meneladani akhlak Rasulullah

Akhlak rasulullah itu tidak hanya rasulullah SAW tapi juga rasulullah AS, walaupun rasulullah SAW itu sudah mencakup semua Nabi/Rasul, tapi inti dari akhlak rasul adalah akhlak mulia, akhlak mulia inilah sunnah rasul yg sejati diatas segala sunnah2 lainnya. Lalu bagaimana caranya supaya bisa berakhlak mulia seperti nabi? Didalam kearifan jawa kita disuruh mencari “galihing kangkung” galihing kangkung itu daging dari batang kangkung, mana ada kangkung yg berkambium/daging karena batang kangkung itu dalamnya berongga dan tidak berkambium, rongga ini menyiratkan sebuah keikhlasan, ikhlas itu nol tapi hasilnya dibagi nol alias tak terhingga. Dengan ikhlas maka segala perbuatan kita niatkan karena Allah dan kita tulus melakukannya tanpa beban apakah itu berpahala atau tidak, asalkan niat, cara, dan tujuannya sudah baik.

Keimanan itu ibarat batang kangkung, dari luar tampak hijau dan indah tapi begitu masuk kedalam maka hanya kosong yg ada. Keimanan sesorang apabila semakin masuk kedalam maka dia akan merasa sangat bodoh, kosong dan tidak tahu apa2 bukannya malah semakin merasa paling berilmu dibanding lainnya. Apabila kita mengaji dan terus mengaji ayat2 Allah baik yg tersurat maupun yg kauniyah dan kita merasa semakin paling pandai maka percayalah bahwa ilmu dan keimanan kita masih sebatas kulit belum masuk ke daging, apabila kita masuk ke daging maka sesungguhnya daging itu tidak ada, yg ada hanyalah rongga kosong dari batang kangkung, tapi apabila kita sudah merasa kosong maka sesungguhnya kita sudah masuk kedalam esensi dari ilmu dan iman, maka hasilnya dibagi nol yaitu tak terhingga.

Dengan meneladani akhlak rasul secara kaffah atau menyeluruh maka itu adalah jalan yg terbaik untuk menghindari diri dari sang kreator pemahaman kulit, sang kreator telah melakukan berbagai cara supaya kulit itu terlihat mulus dan cantik dengan tujuan menjerumuskan pemahaman umat manusia agar berhenti sampai pada tataran pemahaman kulit.
LANJUTKAN MENYIMAK.....

Friday, November 13, 2009

Perwatakan Ratu Adil

Mulai artikel ini terjemahan Serat Wedhatama akan saya ganti judulnya menjadi judul yg bernuansa kekinian tapi tetap tidak mengurangi nilai2 filosofi didalam ajaran adiluhung tersebut. Pada bait ketujuh Serat Wedhatam pupuh Sinom ini kita akan membahas tentang pemimpin yg sejati dan adil adilnya adil, seperti apa pemimpin itu, saya akan mencoba membahas sesingkat dan sepadat mungkin.

07
Ambawani tanah Jawa,
Kang padha jumeneng aji,
Satriya dibya sumbaga,
Tan lyan trahing Senopati,
Pan iku pantes ugi,
Tinelad labetipun,
Ing sakuwasanira,
Enake lan jaman mangkin,
Sayektine tan bisa ngepleki kuna.

Terjemahan Bait 7
Setelah Panembahan Senopati mengadakan perjanjian agung dengan Kanjeng ratu kidul maka beliau menguasai tanah jawa (Ambawani tanah Jawa) dalam arti telah menyetubuhi tanah jawa atau juga bisa berarti Nusantara, juga yg menjadi pemimpin (Kang padha jumeneng aji) yg berwatak satria sakti terkenal (Satriya dibya sumbaga) adalah keturunan Senopati pula (Tan lyan trahing Senopati), keturunan dalam arti mewarisi ajaran2nya, maka hal ini sangatlah pantas menjadikan beliau sebagai teladan yg baik budi pekertinya (Pan iku pantes ugi, Tinelad labetipun), perlu di cermati bahwa ajaran Panembahan Senopati yg "menyetubuhi" Kanjeng Ratu Kidul yaitu menjadi pemenang atas diri sendiri (Senopati ing alaga) terlepas dari segala mitos dan legenda yg berkembang di masyarakat. Maka dari itu terapkanlah menjadi pemenang atas diri sendiri dari ego kesombongan dan keduniaan di jaman kita ini sebisa mungkin seperti di jaman dulu (Ing sakuwasanira, Enake lan jaman mangkin, Sayektine tan bisa ngepleki kuna).

Dalam rangka menjadikan beliau sebagai teladan bagi orang2 di tanah jawa maka perlu kita kaji seperti apakah pemimpin yg adil itu? ya memang teladan yg paling ideal itu bagi umat Islam ya Nabi SAW, tapi karena beliau di arab maka cukuplah kita teladani akhlak beliau sedangkan perilaku itu akan mengikuti akhlak. Salah satu simbol dari turunan akhlak muhammad adalah Panembahan Senopati itu sendiri, tapi sekali lagi jangan dicampur adukkan dengan mitos dan legenda beliau. Kali ini kita akan membahas anak turun dari Panembahan Senopati itu sendiri yaitu Ratu Adil, keturunan yg dimaksud adalah kelanjutan dari persetubuhan dengan alam, untuk mencapai itu maka perlu di hayati dan dimaknai lalu ditindak lanjuti watak2 Hastabrata dibawah ini:

Watak Bathara Wisnu


Bathara Wisnu itu dewa keabadian dan kesejahteraan, Bathara Wisnu itu berwatak tanah, sifat dari tanah adalah tawaduk atau andhap asor, tanah juga salah satu unsur yg menghidupi dari kehidupan diatasnya bahkan tanah bisa lebih penting dari udara, contohnya : pernahkah kita membayangkan tidak berpijak ditanah selama 3 detik saja maka tubuh kita sudah hancur jatuh ketanah dengan asumsi kita tidak terbang, dalam hal ini kita jatuh selama tiga detik maka kita telah jatuh dari ketinggian sekitar 40 meter,sedangkan kalau kita tidak menahan nafas selama 3 detik masih sanggup sekali. Tanah juga berwatak menjadi sandaran bagi aktivitas makhluk yg diatasnya, tanah juga yg mendaur ulang segala sampah2 manusia dan tanah juga yg menerima cacian dan makian seperti "dasar sudah bau tanah" tapi tanah tidak pernah protes apapun cacian dan makian manusia.
 
-Maka seyogyanya pemimpin itu berwatak kasih sayang kepada siapapun tanpa pandang bulu,
-rendah hati terhadap rakyat yg dipimpinnya,
-memberikan kesejahteraan dengan cara pengelolaan sistem pemerintahan yg beramanat kepada semua lapisan rakyat,
-kuat dan sabar menerima kritik, cercaan dan hinaan,
-menjadi sandaran bagi yg dipimpinnya serta kuat pendiriannya apabila sudah istiqomah dijalan kebenaran seperti kuatnya batu karang,
-bisa menguraikan semua masalah bangsa sebijak mungkin mencarikan solusinya.
Untuk mengetahui detilnya tentang watak tanah silahkan klik disini.

watak Bathara Bayu


Bathara bayu adalah dewa angin yg tentu saja berwatak udara atau angin. Udara itu berwatak bisa menelusup kemana saja, wataknya lembut selembut angin yg sepoi2 tapi bisa berwatak keras seperti angin topan yg menghancurkan apa saja yg dilewatinya. Salah satu peranan udara yg penting adalah menjadi tak terlihat, udara itu tidak terlihat tapi sangat penting bagi kehidupan, apabila udara terlihat maka pemandangan kita akan tertutup oleh udara itu sendiri. Salah satu zat penyusun udara atau atmosfer adalah ozon yg menjadi pengayom makhluk hidup dari radiasi sinar matahari, apabila tidak ada atmosfir maka panas dan dinginnya udara di sekeliling kita akan senjang sangat jauh, juga atmosfir itu melindungi kita dari meteor2 yg masuk ke bumi, apabila tidak ada atmosfir/udara maka tentu ini menjadikan bumi tidak layak untuk dihuni.

-Pemimpin itu seharusnya berwatak luwes bisa menelusup dan bergaul kesemua lapisan masyarakat atau tidak jaim,
-berwatak lembut terhadap wong cilik dan keras terhadap wong licik
-berwatak tidak mengharap ketenaran atau tebar pesona ketika sedang menjalankan program2 pemerintahannya, seperti udara yg transparan tapi sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup,
-berwatak mengayomi terhadap pengaruh2 buruk dari luar/asing yg masuk dengan cara menyaring dari segala pengaruh yg buruk serta mempersilahkan pengaruh2 yg baik untuk masuk.

watak Bathara Baruna



Bathara Baruna itu dewa laut atau samudera yg berwatak air. Sebagaimana kita tahu air itu berwatak sujud sempurna, apabila kualitas sujud kita sudah sempurna maka ibarat kita sujud dibawah tiang arsy Nya Allah, sebab tiang penyangga arsy atau dampar kencanaNya Allah itu ditopang oleh air, tentu ini sebuah kiasan yg memerlukan pemaknaan lebih dalam. Salah satu sifat air adalah bening tapi kelihatan dan airlah unsur terpenting dari kehidupan, konon kehidupan pertama kali ada didalam air. Air atau samudera menjadi tempat tujuan akhir dari semua sungai dengan segala kotoran yg dibawanya, dengan air lah maka pelangi bisa timbul karena butiran2 air hujan yg memendarkan cahaya matahari yg berwarna putih menjadi tujuh warna pokok pelangi, maka air bersifat mengejawantah, apabila air yg membeku menjadi salju maka tidak ada satupun butiran salju yang sama dari ber trilyun2 butiran salju didunia ini, maka air berwatak menjadi diri sendiri.

-Pemimpin harus mempunyai kebeningan hati dan pikiran sejernih air embun,
-pemimpin itu harus mempunyai watak kesempurnaan sujud yaitu siap untuk "dilenggahi" atau diduduki oleh kemaha kuasaan Allah, dalam hal ini menjadi kepanjangan tangan Allah tanpa mengaku aku sepihak,
-pemimpin harus bisa menampung segala keluh kesah masyarakat dengan kesabaran hatinya yg seluas samudera,
pemimpin itu harus bisa mengejawantah segala petunjuk Illahi untuk diwujudkan kedalam program2 pemerintahannya, lebih tepatnya lagi "mendengar suara Tuhan dibalik suara rakyat",
-pemimpin harus gigih dan tidak mudah putus asa seperti aliran sungai yg berkelok kelok akhirnya menuju lautan juga,
-pemimpin itu harus menjadi diri sendiri tanpa meniru niru orang lain hanya kulitnya saja apalagi sampai mencontek konsep negara lain utk diadopsi ke negaranya sendiri tanpa kajian yg mendalam.

Untuk mengetahui watak air selengkapnya silahkan baca disini.

watak Bathari Ratih


Bathari Ratih itu dewi bulan yg berwatak menyinari bumi dikala malam atau kegelapan, bulan juga yg menjadikan malam penuh kesejukan, walaupun sinar bulan itu pantulan dari matahari tapi keindahan bulan lebih indah ketimbang matahari maka dari itu bulan menjadi inspirasi bagi para sastrawan diseluruh dunia. Apabila bulan sedang purnama maka air laut akan pasang dalam arti air kehidupan manusia sedang naik, maka dari itu kita dianjurkan berpuasa di tengah bulan supaya kita bisa mengendalikan rasa jatuh cinta kita kepada seseorang agar tidak menjadi hal2 yg buruk seperti perzinahan, perselingkuhan dsb

-Pemimpin itu harus berwatak menjadi cerminan dari sifat2 dan asma2 Allah yg baik indah tanpa batas,
-perkataan pemimpin itu harus penuh dengan kesejukan tidak malah memprovokasi rakyat utk berbuat anarkis,
-memberikan cinta dan kasih dengan sepenuh hati kepada rakyatnya,
-menjadi inspirasi atau menjadi teladan bagi rakyat yg dipimpinnya,
-mampu memotivasi rakyat yg dipimpinnya agar selalu giat bekerja dan berkehidupan lebih baik,
-mampu memberikan petunjuk atau penerang dikala rakyat sedang kacau atau kegelapan.


watak Bathara Surya


Bathara Surya adalah dewa matahari, matahari itu berwatak menyinari dikala siang hari, ketika di malam hari matahari sebenarnya tetap terang tapi menyinari di sisi lain. Matahari merupakan sumber energi bagi aktivitas kehidupan makhluk hidup, bahkan sampai saat ini tidak diketahui secara pasti mengapa matahari bisa terus terang tanpa pernah padam sedikit pun, maka matahari juga menjadi simbol dari sebuah kemandirian tanpa bergantung dari pihak lain atau dengan kata lain sudah jumeneng.

-Seorang pemimpin harus bisa memberi pencerahan kepada rakyat yg dipimpinnya,
-mampu menyediakan lapangan kerja seluas luasnya atau memberi kesempatan seluas luasnya untuk berusaha,
-pemimpin harus bisa mewujudkan kemandirian disegala bidang tanpa tergantung kepada utang baik dalam negeri maupun luar negeri.

watak Bathara Indra


Bathara Indra adalah dewa langit yg berwatak penuh wibawa, dilangit terdapat awan yg mencurahkan hujan yg memberikan kesegaran dikala kemarau dan petir yg menakutkan tapi sebenarnya petir itu juga bermanfaat bagi kesuburan tanah. Petir itu juga mengingatkan kepada benda2 yg tinggi supaya tetap untuk merendah atau akan tersambar olehnya, sasaran favorit petir adalah pohon yg tinggi, maka dari itu setiap bangunan/ menara yg tinggi pasti ada penangkal petirnya, sedangkan penangkal petir itu bersifat menetralkan karena tersambung dengan tanah. dilangit pula terdapat pelangi yg sangat indah, seperti yg dijelaskan diatas, pelangi itu simbol dari pengejawantahan wahyu illahi, sedangkan pelangi itu asalnya dari butiran hujan yg turun terkena sinar matahari tapi pelanginya tidak ikut turun, maka bisa dikatakan pelangi itu bergantung di angkasa.

-Pemimpin itu harus punya wibawa terhadap semua rakyat dan bawahannya,
-pemimpin harus bisa mencurahkan segala ide dan pikirannya demi kesejahteraan rakyatnya seperti curahan hujan,
-harus bisa mengingatkan kepada para pejabat atau konglomerat agar tidak sombong dan mau mendermakan sebagian hartanya kepada rakyat kecil juga mengingatkan untuk membayar pajak, apabila tidak mau maka hukuman telah menanti kepada siapapun yg sombong seperti petir menyambar menara yg tinggi tanpa penangkal dan penangkal petir itu simbol masih membumi,
-memberikan ruang seluas luasnya bagi rakyat utk berkreasi dibidang seni asal masih dalam norma kesopanan
-memberi kesempatan seluas luasnya kepada rakyat utk memeluk agama apapun dan memberi kesempatan yg seluasnya pula utk beribadah,
-berprinsip perbedaan itu rahmat dan indah seindah pelangi yg menggantung dilangit dan tidak memaksakan suatu paham ke pihak lain. 



watak Bathara Brahma


Bathara Brahma itu dewa api dan berwatak panas dalam arti akan membakar apapun yg dilaluinya tanpa pandang bulu, api juga berwatak menjadi penerang sementara di kegelapan, karena penerangan abadi adalah sinar matahari yg tidak pernah padam. Karena api itu akan membakar apapun yg dilewatinya maka api itu berwatak keadilan dibidang hukum tanpa tebang pilih. Dengan api pula makanan yg mentah bisa masak.

-Pemimpin harus bisa menjadi penegak hukum bagi siapapun yg salah dan memberi jasa kepada siapapun yg berjasa, maka inilah keadilan,
-pemimpin itu tidak boleh plin plan seperti api yg membakar maka abunya tidak bisa kembali ke benda sebelum terbakar "sabdo pandhito ratu tan kena wola wali"
-pemimpin harus bisa memberi pertolongan2 darurat seperti darurat bencana alam
-pemimpin harus bisa mendewasakan/mematangkan pola pikir rakyatnya agar berpikiran maju ibarat api yg memasak makanan supaya matang.

Untuk watak api selengkapnya bisa dibaca disini.

watak Bathara Kartika


Bathara kartika itu dewa bintang, bintang itu menjadi petunjuk arah sejak jaman dahulu terutama bagi para pelaut selain menggunakan kompas, tapi salah satu kelebihan petunjuk arah menggunakan bintang adalah tidak bisa dibohongi atau dimanipulasi seperti kompas, bintang itu jujur apa adanya, kalau arahnya utara ya utara, kalau selatan ya selatan, bintang juga memberi penerangan dikala malam bersama bulan, tapi kelebihan bintang adalah sinarnya yg menyebar titik titik membentuk suatu pola atau rasi bintang, maka watak bintang adalah memberi penerangan dimalam hari tanpa tergantung dari satu kedudukan dan apabila satu bintang ditutupi oleh awan masih ada jutaan bintang lainnya yg menyinari bumi.

-Pemimpin harus bisa memberikan petunjuk atau arahan kepada rakyatnya lebih2 kepada anak buahnya,
-pemimpin harus berkata apa adanya atau jujur, kalau salah ya dibilang salah kalau benar ya di bilang benar atau mempunyai ketegasan,
-didalam memberikan pencerahan pemimpin haruslah kreatif tanpa bergantung pada satu cara atau media tapi bisa memakai banyak media mak dalam arti pemimpin itu harus kreatif.


Perwatakan Tambahan
Disamping watak hastabrata diatas maka perlu saya tambahin watak dari tokoh wayang berwujud manusia disamping watak wayang dewa yg menyimbolkan watak alam.

watak Darmokusumo


Prabu Darmokusumo itu ya Puntaweda, Puntadewa itu berdara putih atau ludiro seta, darah putih disini melambangkan keikhlasan dan kesabaran tanpa batas, kalau di sejarah islam mirip2 Abu Bakar Ash-shidiq, kalau dibanding-bandingkan dengan Umar bin Khatab yg pemberani dan tegas maka ibarat semua kebaikan Umar maka hanya bernilai satu bagi kebaikan Abu Bakar. Nah kembali ke Puntadewa, saking ikhlasnya dia maka walaupun istrinya yaitu Drupadi diminta pun dikasihkan ke yg meminta, Puntadewa itu juga tidak pernah marah karena sangat sabar, tapi apabila dia kesabarannya sudah habis dan marah maka akan bertiwikrama menjadi raksasa putih yg sangat besar bernama dewa Amral yg membuat seisi kahyangan menjadi ketakutan, bahkan kebesaran wayang Dewa Amral itu lebih besar dari tiwikramanya dewa Wisnu.

Darmokusumo atau Puntadewa itu satu2nya prabu /raja tanpa mahkota, dia memakai udheng yg melambangkan sudah paham akan arti kehidupan yg didalamnya terdapat layang atau jimat Kalimasada, kalimasada itu berarti kalima husada atau kalimat penyembuh yg menyimbolkan wejangan2nya tentang kehidupan akan menyembuhkan segala penyakit hati. Kalimasada juga berarti kalimat syahadat, syahadat disini bukan syahadat ikut2an supaya dikira sudah masuk islam tapi merupakan syahadat total yaitu sudah menjadi saksi sepenuhnya atas keesaan Allah dan kesaksian itu dimulai dari "laa ilaaha illa huwa".

-Pemimpin harus mempunyai watak ihlas dan sabar tanpa batas,
-pemimpin harus bisa menyadarkan kesesatan dari rakyat dengan memakai kalimat2 penyembuh,
-pemimpin harus bisa paham apa tujuannya dia memimpin dan tujuannya dia hidup yaitu, dari dan menuju Allah,
-syahadat pemimpin itu harus total bukan ikut2an maka pemimpin itu sudah menjadi saksi atas keesaan Tuhan sehingga keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu benar2 yakin, bukan keyakinan yg diyakin yakinkan tapi sebenarnya tidak yakin.


watak Semar


Semar itu adalah sebenarnya dewa yg mengejawantah atau menjelma menjadi seorang lurah di Klampis Ireng, semar dianugerahi dengan mustika manik Astagina yg diletakkan dikuncungnya, kelebihan dari mustika itu adalah tidak pernah lapar, tidak pernah mengantuk, tidak pernah jatuh cinta, tidak pernah bersedih, tidak pernah merasa capek, tidak pernah menderita sakit, tidak pernah kepanasan, dan tidak tidak pernah kedinginan, maka bisa dikatakan Semar itu sudah tidak bergantung di dunia ini tapi dia berkuasa di alam Sunyaruri atau alam kekosongan/suwung. Simbol dari Semar adalah menjadi sang pamomong bagi semua raja2 jawa, maka apabila pemimpin berwatak Semar maka dia menjadi pamomong atas diri sendiri seperti wejangan Sosrokartanan "guru, muride pribadi...murid, gurune pribadi". Semar juga dikatakan bisa menelan jagat dalam arti sudah berwatak ihlas tanpa batas, ibarat memiliki jagat ini, apabila ada orang yg mau menyogok Semar maka ibarat "menggarami lautan" hanya sia2 yg didapat.

-seorang pemimpin harus sudah meninggalkan dunia sebelum meninggal dunia maka hanya orang2 yg tidak tergantung dunialah yg berhak memimpin,
-seorang pemimpin harus bisa menjadi guru dan murid atas diri sendiri,
-pemimpin itu harus memiliki watak demuwe atau merasa memiliki alam ini dalam arti memelihara semua yg dimilikinya di alam ini tanpa mengaku aku itu miliknya.


Demikianlah semua watak yg harus dimiliki oleh seorang ratu Adil yg akan menjadikan nusantara itu adil adilnya adil, memang sangat berat untuk dilakoni tapi memang itulah resiko seorang pemimpin, tapi dibalik resiko atau laku yg berat itu terdapat suatu pahala yg besar disisiNya apabila bisa benar2 berlaku adil. Semoga kita semua bisa menjadi ratu adil atas diri kita sendiri sebelum menjadikan diri kita pemimpin atas orang lain. LANJUTKAN MENYIMAK.....

Sunday, November 8, 2009

Terjemahan Serat Wedhatama Sinom 6



Alhamdulillah akhirnya sampai di pupuh Sinom bait 6, pada bait ini kita akan membicarakan tentang Mataram, mengapa disebut Mataram? silahkan disimak  lebih lanjut.


06
Prajanjine abipraya,
Saturun-turuning wuri,
Mangkono trahing ngawirya,
Yen amasah mesu budi,
Dumadya glis dumugi,
Iya ing sakarsanipun,
Wong agung Ngeksiganda,
Nugrahane prapteng mangkin,
Trah tumerah dharahe padha wibawa.

Terjemahan Bait 6
Setelah Panmenbahan Senopati bertemu Kanjeng Ratu Kidul dan "menyetubuhinya" maka beliau membuat suatu perjanjian yg mulia (Prajanjine abipraya) yang ditujukan kepada dirinya dan seluruh keturunannya di kemudian hari kelak (Saturun-turuning wuri). Secara biologis keturunan Panembahan Senopati itu meliputi Catur Sagotra atau empat sedarah yaitu Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegara, Kasultanan Yogyakarta dan Pura Pakualam, mereka semua adalah keturunan orang luhur (Mangkono trahing ngawirya) dan akan luhur pula bila mau mengasah akal budi (Yen amasah mesu budi) maka segala cita2 pendiri dinasti Mataram akan cepat berhasil (Dumadya glis dumugi, Iya ing sakarsanipun, Wong agung Ngeksiganda) yaitu diberi anugerah berupa budi pekerti luhur yg mengalir keseluruh darah keturunannya dan memiliki wibawa (Nugrahane prapteng mangkin, Trah tumerah dharahe padha wibawa).

Seperti yg dijelaskan pada bait sebelumnya bahwa menyetubuhi Kanjeng Ratu Kidul itu bermakna memakai alam/bumi bagian selatan yang bersifat spiritualis sebagai tubuh, seperti kebiasaan orang jawa yang menyimbolkan daerah atau tempat dengan anggota tubuh, contohnya : Baitul Makmur itu kepala, baitul Muharam itu hati/jantung, baitul mukadas/maqdis itu perut. Lalu siapakah yg memakai alam ini sebagai tubuh? maka ruh lah yg memakai alam ini sebagai tubuh, pada hakekatnya ruh itu satu ditangan Allah, apa yg terpecah pecah kedalam setiap individu adalah jiwa, sedangkan jiwa itu pertemuan antara jasad dan ruh, jadi jiwa itu meliputi akal, budi, intuisi, rahsa dsb yg sangat luas cakupannya lebih2 ruh yg ditangan Allah.

Nah kembali ke Panembahan Senopati yg membuat perjanjian dengan Kanjeng Ratu Kidul, perjanjian yg dimaksud bukan perjanjian pesugihan dengan korban nyawa, tapi sebuah perjanjian yg menyatakan bahwa seluruh anak keturunan beliau yg menjadi raja akan didampingi oleh Kanjeng Ratu Kidul sebagai istri spiritual, maksudnya adalah raja2 keturunan Panembahan Senopati itu harus melakukan laku seperti yg dilakukan oleh Panembahan Senopati yaitu memakai alam/bumi bagian selatan sebagai tubuh. Sayangnya hal ini tidak dilakukan sepenuhnya oleh keturunan beliau sehingga mudah dipecah belah oleh penjajah.



Mataram itu pertama kali disebutkan didalam sebuah prasasti Canggal bertarikh 732 M, disitu disebutkan Sanjaya anak Sanna dari Galuh Sunda menjadi maharaja di Mataram. Kalau memakai ilmu gothak gathik gathuk, Mataram itu semakna dengan mother land, Mataram atau Materam berarti tanah keibuan, maka tidak heran wangsa Sanjaya dari Sunda dan Wangsa Syailendra dari Sriwijaya berebut tanah "ibu". Materam/Mataram juga semakna dengan Maryam/Maria, seperti kita tahu Maryam itu ibunda Isa as, seorang perawan yg melahirkan seorang nabi besar, didalam Islam Maryam itu seorang wanita yg keibuan dan sangat mulia, kemuliaannya sejajar dengan para nabi. Oleh karena Mataram itu seperti Maryam maka turunnya/kelahiran "nabi Isa" itu ditanah keibuan ini. Ini bukan mengada ada atau jawanisasi atau mengagung agungkan Jawa diatas daerah lainnya, tapi lebih merupakan sebuah cita2. Sebagai penjelasannya mengapa nusantara ini berpotensi melahirkan/menurunkan "nabi Isa" atau Satrio piningit sejati, didunia ini manakah kosakata yg memakai serba ibu kecuali di Indonesia, ada ibukota, ibu jari, ibu pertiwi, hari ibu dsb, dan kebetulan Mataram itu juga identik dengan mother dan identik juga dengan Maryam.

Setiap daerah di Nusantara ini mempunyai kelebihan masing2 tanpa bermaksud merendahkan daerah lainnya, orang Sunda memiliki kelebihan ilmu pertaniannya yg maju sehingga hampir tidak pernah ada kekeringan atau kekurangan pangan, orang Bugis adalah pelaut yg handal dengan Pinisinya bisa mengarungi lautan manapun, orang Minang punya kelebihan ilmu dagang sehingga rumah makan Padang ada dimana mana, sedangkan orang jawa khususnya di Mataraman mempunyai kelebihan didalam ilmu olah jiwa, ilmu olah jiwa di jawa diolah sedemikian rupa bahkan terkesan njlimet dan dibahasakan kedalam simbol2 yg bahkan orang jawa kebanyakan tidak tahu makna simbol2 itu sendiri, apabila olah jiwa atau olah rahsa itu bisa dilakukan dengan sungguh2 dan dipahami setiap simbol2 yg terkandung didalamnya maka akan mencapai rosojati atau telenging rahsa atau pusat dari rahsa/rahasiaNya yg ada didiri kita, nah rosojati inilah awal dari kesadaran ruhani atau kesadaran ruh sedangkan kesadaran ruh itu disimbolkan oleh nabi Isa as, maka bisa ditarik benang merah antara Maryam atau Mataram dengan Isa as atau kesadaran ruh atau kelanjutan rosojati. Maka dari itu sebagai kawula Mataram atau yg sadar akan keibuannya segera gumregah cancut taliwondo sepi ing pamrih rame ing gawe membuat Mataram kembali perawan dengan cara membersihkannya dari residu2 dunia berupa kapitalisme dan fanatisme dengan cara mendaur ulang energi2 kotor tsb yaitu merekonstruksi kembali pemahaman yg benar akan kiamat/qiyamuhu binafsihi dan makna terdalam dari ketuhanan Yg Maha Esa.

Bahaya kapitalisme
Kapitalisme itu meliputi riba yang sangat mengotori darah daging kita, riba dibidang niaga itu berupa pengurangan takaran dengan sengaja dari yg semestinya atau yg tertera dan bisa juga pengambilan bunga yg terlalu tinggi sehingga mencekik si peminjam modal, tapi riba yg paling berbahaya adalah dibidang ilmu pengetahuan, yaitu memperoleh kemudahan2 atas temuan orang lain dengan sedikit usaha, contohnya orang Finlandia membuat teknologi ponsel terbaru dan dipasarkan ke Indonesia maka orang Finlandia iu telah mengambil riba dari orang Indonesia dibidang ilmu membuat ponsel dengan cara menjualnya ke kita lalu membiarkan otak kita monoton tidak kreatif hanya mau barang jadinya saja tanpa bersusah payah bagaimana membuat ponsel itu sendiri, sebagai akibatnya maka setiap ada ponsel model terbaru maka ponsel lama akan dibuang atau dijual dengan gampangnya dan membeli ponsel terbaru tsb, kalau tidak mengikuti tren terbaru maka akan merasa tersiksa. Inilah mengapa ada hak paten yg berujung paten patenan, jaman dulu tidak ada yg namanya hak paten, ilmu itu tersebar secara bebas tanpa harus membeli kalau penyebarannya untuk kalangan2 tertentu bertujuan hanya karena untuk menjaga keaslian ilmu tersebut bukan untuk dikomersilkan.

Pada dasarnya semua ilmu itu milik Allah yg bebas untuk disebar luaskan, hak paten atau pengakuan sepihak atas suatu ilmu/teknologi kebanyakan bertujuan untuk mengakui temuan miliknya agar tidak diakui oleh pihak lain, inilah pangkal permasalahan dari riba di bidang ilmu, contoh: ketika saya menemukan teknologi lalu saya patenkan maka otomatis teknologi itu hanya milik saya, apabila ada orang lain yg menggunakan teknologi yg saya temukan atau mirip2 yg saya temukan maka orang itu telah melanggar hak cipta yg telah saya aku sepihak, dan sepertinya saya lupa bahwa saya hanyalah alat bagi Tuhan untuk mengajarkan ilmuNya yg bermanfaat kepada orang banyak, karena kesalahan pemahaman saya lah ilmu itu saya aku sepihak dan orang lain tidak boleh menggunakannya tanpa seijin saya, lalu saya bisa memproduksi barang dengan teknologi yg saya temukan supaya dikonsumsi orang banyak lalu saya biarkan para pelanggan saya terlena dengan menggunakan barang hasil kreasi saya sehingga setiap ada barang baru yg saya produksi maka para pelanggan saya buru2 menjadi pembeli pertama barang baru tsb dan dengan mudahnya meninggalkan barang lamanya, inilah yg disebut penjajahan ekonomi atau konsumtifisme.

Menjadikan Nusantara kembali perawan

Sebagai solusinya agar kebudayaan/teknologi kita tidak diaku oleh pihak lain adalah dengan mempatenkan teknologi/budaya tsb yg tidak berujung paten patenan yaitu dengan cara mematenkan dengan atas nama bersama bukan per individu atau golongan, contohnya : wayang kulit adalah milik bangsa indonesia bukan milik orang jawa semata, kain ulos adalah milik bangsa Indonesia bukan milik orang batak semata dsb. Maka teknologi/budaya yg telah kita atas namakan bangsa Indonesia itu kita sebarkan secara luas keseluruh penjuru nusantara secara gratis, maka semua orang akan memproduksi barang dengan teknologi yg sama dan yg membedakan hanyalah kreativitas masing2 produk maka sistem yg monopoli/monopsoni bisa dihindari dan yg tak kalah penting adalah memacu kreativitas seseorang dari teknologi yg telah ada supaya bisa bersaing secara sehat. Teknologi/ilmu yg bermanfaat itu akan memacu daya pikir dan kreativitas pengguna ilmu/teknologinya, sedangkan ilmu/teknologi yg kapitalis hanya akan membuat penggunanya berpikir konsumtifisme atas kemudahan penggunaan teknologi tersebut.

Salah satu produk yg terkenal dari kapitalisme adalah sampah yg menggunung disebabkan oleh konsumtifisme tersebut, tidak ada dalil yg menyatakan "buanglah sampah pada tempatnya" karena pada jaman Nabi tidak ada sampah karena jaman dulu belum ada plastik, ada suatu riwayat yg mengatakan bahwa Nabi sendiri yg menjahit terompahnya yg sobek, coba kalau ini terjadi pada sandal jepit kita maka dengan mudahnya akan kita buang dan beli lagi yg baru. Sampah yg menggunung di kota2 besar itu adalah akibat dari pola pikir konsumtifisme buah dari kapitalisme, maka slogan yg sebelumnya "buanglah sampah pada tempatnya" harus diganti "daur ulanglah sampah secara bijak dan membawa manfaat".

Teknologi yg membawa manfaat haruslah bisa mendaur ulang sisa2 yg tak terpakai, salah satu solusi dibidang energi adalah dengan biomassa, kita tahu setiap orang atau hewan akan mengeluarkan kotoran tiap harinya, nah kotoran2 itu harus bisa kita olah menjadi pembangkit energi atau menjadi bahan bakar gas pengganti bahan bakar berbasis minyak bumi/batubara, sedangkan sisa2 kotoran yg sudah tidak menghasilkan gas lagi bisa diolah menjadi pupuk. Apabila itu semua bisa diwujudkan secara baik maka kita tidak perlu lagi mengebor tanah mengeksplorasi minyak besar2an yg ujung2nya akan membawa bencana seperti lumpur di Sidoarjo dan lagi kita tidak perlu memakai pupuk2 kimiawi yg sebetulnya kurang baik karena kita telah bisa memanfaatkan limbah kita sendiri untuk kita jadikan pupuk.

Penjelasan diatas adalah salah satu solusi bagaimana membuat Mataram atau Nusantara itu kembali virgin atau perawan demi melahirkan Satrio2 Piningit yg akan membawa kemajuan bagi Nusantara ini. Tapi yg terpenting Satrio piningit itu adalah ruh atau jiwa didiri kita yg berkesadaran ruhani yg masih kita pingit oleh ego2 kesombongan serta keduniaan untuk segera kita keluarkan dari pingitannya dan kita jadikan pemimpin atas diri kita sendiri, maka itulah cita2 luhur dari pendiri Mataram atau tanah keibuan.

Artikel yang terkait sebelumnya
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 1-2
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 3-5
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 6-8
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 9
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 10-11
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 12
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 13-14
Terjemahan Serat Wedhatama Sinom 1
Terjemahan Serat Wedhatama Sinom 2
Terjemahan Serat Wedhatama Sinom 3
Terjemahan Serat Wedhatama Sinom 4-5 
LANJUTKAN MENYIMAK.....

Thursday, November 5, 2009

Terjemahan Serat Wedhatama Sinom 4-5



Pada bait-bait ini kita akan membahas tentang laku Panembahan Senopati yg bertapa di tepi Pantai selatan dan bertemu Kanjeng Ratu Kidul, ini adalah kisah yg menarik dari segi mitologi, nah siapakah Kanjeng Ratu Kidul itu? silahkan disimak lebih lanjut.

04
Wikan wengkoning samodra,
Kederan wus den ideri,
Kinemat kamot hing driya,
Rinegan segegem dadi,
Dumadya angratoni,
Nenggih Kangjeng Ratu Kidul,
Ndedel nggayuh nggegana,
Umara marak maripih,
Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda

05
Dahat denira aminta,
Sinupeket pangkat kanthi,
Jroning alam palimunan,
ing pasaban saben sepi,
Sumanggem anyanggemi,
Ing karsa kang wus tinamtu,
Pamrihe mung aminta,
Supangate teki-teki,
Nora ketang teken janggut suku jaja.


Terjemahan Bait 4

Ketika beliau bermeditasi di pantai selatan maka beliau ber angen angen atau bervisualisasi akan dalamnya samudera dan memahami makna dari samudera itu sendiri (Wikan wengkoning samodra, Kederan wus den ideri), beliau mengerahkan segala kesaktiannya yg meliputi indera (Kinemat kamot hing driya) baik itu yg bersifat kanoman maupun kasepuhan, kesaktian yg dimaksud disini bukan sebangsa ilmu kebal, pukulan dsb tapi lebih mengacu pada karsa atau kehendak atas kebulatan tekad dan cipta rasa atau kekuatan visualisasi pikiran yg berlanjut dengan penyatuannya dengan rahsa atau rahasiaNya.

Apa dan siapakah yg menyangsikan kekuasaanNya, dengan sekali kehendak ibarat menggenggam tangan maka jadilah, siapapun yg dikehendaki menjadi ratu (penguasa) (Rinegan segegem dadi, Dumadya angratoni). Itulah yg menjadi kehendak beliau (Panembahan Senopati) supaya kehendaknya menjadi kehendakNya dengan laku bertapa di pantai selatan dan ditemui oleh Kanjeng Ratu Kidul yang naik dari dalam samudera dan menggapai awang2 (Ndedel nggayuh nggegana) lalu datang menghadap dan memberi hormat kepada Wong Agung Ngeksigondo (Umara marak maripih, Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda).

Secara mitologi Kangjeng Ratu Kidul itu adalah penguasa pantai selatan yg menjadi penguasa para makhluk halus se tanah jawa dan samudera Hindia, beliau mempunyai patih jawi (luar) bernama Nyi Roro Kidul dan patih lebet (dalam) bernama Nyi Riyo Kidul, menurut kesaksian yg bisa melihat alam gaib, istana beliau terbuat dari emas dan sangat megah dan terletak tak jauh dari pantai Parangtritis atau Parangkusumo, tapi bagi masyarakat Jawa Barat mengakui kalau Kanjeng Ratu Kidul itu beristana di Pantai Pelabuhan Ratu dan masih keturunan dari penguasa Pajajaran. Ada juga seorang spiritualis dari Jawa Timur yg mengatakan bahwa beliau mempunyai mbok emban atau bibi pengasuh yg bernama Mbok Roro Kidul, apabila antara Kanjeng Ratu Kidul, Nyi Roro Kidul dan Mbok Roro Kidul itu bersatu maka akan mempunyai kekuatan supranatural yg sangat hebat begitu katanya. Tapi terlepas benar atau tidaknya kisah2 yg berkembang di masyarakat hanya Allah yg tahu, tapi secara pribadi saya mempercayai sosok beliau sebagai sesama makhluk Allah yg berakal budi dan sangat menghormati beliau.

Itu tadi adalah Kangjeng Ratu Kidul secara mitologi atau cerita rakyat yg berkembang, tapi secara filosofi Kanjeng Ratu Kidul itu bermakna dalam. Pada saat panembahan Senopati bermeditasi sebenarnya beliau sedang mempraktekkan meditasi hening atau meditasi dengan dekonsentrasi, ini kebalikan dari meditasi konsentrasi yg mana memusatkan cipta pada satu titik, sedangkan pada dekonsentrasi menyebarkan cipta atau rahsa ke semua ruang disekitar subyek yg bermeditasi, semakin lama jangkauan penyebaran cipta/rahsa semakin besar dan pada akhirnya seluruh tanah Mataram dan laut selatan menjadi obyek beliau didalam bermeditasi, seolah olah beliau sedang menyetubuhi laut selatan dan tanah Mataram, inilah suatu laku yg teramat sangat penting dilakukan oleh seorang pemimpin dimana memperlakukan daerah yg dipimpinnya seperti bagian dari tubuh sendiri.

Bumi ini sebenarnya di bagi 2 yaitu utara dan selatan yg dibatasi oleh garis ekuator, sedangkan apa yg dilakukan oleh Panembahan Senopati adalah menyetubuhi bumi/alam bagian selatan, karena orang jawa sangat menghormati benda2 pusaka contohnya seperti keris yg dinamakan kyai Sengkelat, kyai Setan Kober, kyai Kopek dll maka dalam menghormati alam ini menyandangkan gelar yg lebih tinggi dari sekedar kyai yaitu Kanjeng Ratu, karena dibagian selatan maka menjadi Kanjeng Ratu Kidul, jadi Kanjeng Ratu Kidul itu adalah simbol dari bumi bagian selatan yg tertinggal secara teknologi akhir2 ini tapi maju secara spiritual.

Terjemahan Bait 5 
Pada saat Kanjeng Ratu Kidul datang dan menghadap maka beliau (Kanjeng Ratu Kidul) memohon supaya bisa melayani kehendak dari Panembahan Senopati dan menjadikannya sebagai sahabat setia (Dahat denira aminta, Sinupeket pangkat kanthi) di alam tak kasat mata/gaib yaitu ketika beliau sedang kesepian karena dirundung masalah (Jroning alam palimunan, ing pasaban saben sepi) didalam membabat alas (hutan) Mentaok yg penuh dengan bangsa jin yg sukar ditundukkan, maka beliau menyanggupi kehendak Panembahan Senopati (Sumanggem anyanggemi) didalam meminta bantuan utk menghadapi kesaktian jin2 alas Mentaok. Karena itu semua sudah menjadi kodrat yg sudah digariskan (Ing karsa kang wus tinamtu) dan harapannya adalah meminta restu melalui bertapa (Pamrihe mung aminta, Supangate teki-teki) walaupun itu semua dilakukan dengan susah payah ibarat menggunakan dagu sebagai tongkat dan dada sebagi kaki (Nora ketang teken janggut suku jaja).

Ketika Panembahan Senopati berhasil "menyetubuhi" Kanjeng Ratu Kidul atau bumi bagian selatan maka segala makhluk hidup yg ada didalamnya akan menjadi pelayan setia (suket godhong dadi rewang) maka beliau sudah menjadi kholifah dimuka bumi ini atau wakil Tuhan dan menjadikan beliau sebagai pusat atau titik henti dari makhuk hidup disekitarnya, secara umum "kita itu ada didalam alam beserta isinya" tapi bagi beliau keadaan itu berbalik menjadi "alam beserta segala isinya berada didalam layar kesadaran beliau".

Tentu saja sangat tidak mudah untuk bisa menyetubuhi alam ini dan menjadi khalifah Allah, tidak cukup hanya mempraktekkan meditasi bervisualisasi seolah2 sedang menjadikan alam sebagai tubuh kita, semua itu harus dicapai dengan susah payah dalam arti harus gentur tapane atau terbiasa bertirakat mengurangi makan, mengendalikan nafsu2 keduniaan, bertawaduk terhadap segala ciptaanNya serta tidak berbuat zhalim terhadapnya dan juga ihklas didalam mengerjakan sesuatunya (sepi ing poamrih rame ing gawe). Saya kira sia2 apabila mempraktekkan meditasi dekonsentrasi tapi masih berbuat zhalim terhadap pepohonan (illegal logging) dan binatang, menyia-nyiakan fakir miskin dan anak terlantar dan tidak mau bersedekah atau pelit. Meditasi atau do'a itu hanya sebagai sarana untuk memohon kepadaNya serta membulatkan niat dan tekad penuh keyakinan atas segala kekuasaanNya tapi yg terpenting adalah wujud perbuatan dari niat dan tekad itu sendiri.

Artikel yang terkait sebelumnya
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 1-2
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 3-5
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 6-8
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 9
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 10-11
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 12
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 13-14
Terjemahan Serat Wedhatama Sinom 1
Terjemahan Serat Wedhatama Sinom 2

Terjemahan Serat Wedhatama Sinom 3
LANJUTKAN MENYIMAK.....

Friday, October 30, 2009

Terjemahan Serat Wedhatama Sinom 3



Di bait ini kita akan membicarakan suatu kejadian atau fenomena ketika kita meninggalkan "rumah", sebenarnya ini adalah pengalaman spiritual dari Panembahan Senopati raja pertama Mataram Islam dan semoga kita bisa mengambil manfaat dari ini semua.

03
Saben mendra saking wisma,
Lelana lalading sepi,
Ngingsep sepuhing supana,
Mrih pana pranaweng kapti,
Tis tising tyas marsudi,
Mardawaning budya tulus,
Mesu reh kasudarman,
Neng tepining jalanidhi,
Sruning brata kataman wahyu dyatmika.


Terjemahan dari bait 3
setiap mengembara meninggalkan rumah (istana),
berkelana ke tempat yang sunyi (dari hawa nafsu),
menghirup  tingginya ilmu,
agar jelas apa yang menjadi tujuan (hidup) sejati.
hati bertekad selalu berusaha dengan tekun,
memperdayakan akal budi
menghayati cinta kasih,
ditepinya samudra.
kuatnya bertapa diterimalah wahyu dyatmika (hidup yang sejati).

Setiap pengembaraan meninggalkan "rumah" (saben mendra saking wisma) ini mempunyai makna filosofi setiap ruh meninggalkan tubuh, ruh yg dimaksud disini adalah jiwa atau sukma yg menjadi bagian dari ruh yg ditangan Tuhan, seperti yg sering kita dengar bahwa manusia tiada mengetahui ruh melainkan sangat sedikit, sedangkan yg sangat sedikit ini ditangan ahli kebatinan dijabarkan sedemikian rupa menjadi kakang kawah adi ari2, sedulur papat limo pancer dsb menurut kearifan budaya setempat, sedangkan yg sangat banyak ditangan Tuhan itu sebenarnya adalah satu tidak berkeping keping atau terpecah pecah, apabila tangan kiri kita dicubit maka yg berteriak "aduh" adalah mulut bukan si tangan itu sendiri, mengapa? karena baik tangan dan mulut adalah satu dan terhubung oleh sistem syaraf yg berpusat di otak.

Nah kembali ke "saben mendra saking wisma", setiap ruh itu keluar dari tubuh itu bisa diartikan sukma yg keluar seperti ngraga sukma atau dengan makna yg lebih tinggi yaitu menjadikan ruh sebagai badan dari badan kasar kita (pamoring kawulo gusti) atau warongko manjing curigo (sarung yg masuk ke bilah keris), ini memang tidak bisa terjadi pada keris betulan tapi secara filosofi keris itu adalah bermakna wutuh, tangguh, sepuh. Wutuh adalah tanpa cacat, sebab kalau cacat maka akan mengurangi estetika dari keris itu sendiri, seperti kalau akhlak kita cacat maka akan berdampak pada perilaku kita yg cacat juga. Tangguh adalah jaman pembuatannya seperti tangguh Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, Tuban dsb, keris yg bertangguh Majapahit tentu beda dengan keris yg bertangguh Mataram, maka tangguh ini bermakna identitas diri yg tidak meniru siapapun, maka jadilah diri sendiri. Sedangkan sepuh itu adalah tua, semakin tua keris itu maka dipastikan akan semakin mahal harganya di pasaran walaupun ada juga keris yg tidak begitu tua tapi harganya selangit sebab bertahtakan berlian dan berlapis emas, nah hubungannya sepuhnya keris dengan sepuhnya diri kita adalah, carilah bagian mana dari diri kita yg paling sepuh/tua! maka bisa dipastikan ruh kita lah yg jauh lebih tua dari jasad kita, semakin kita menyelami samudera ruhani kita maka kita akan semakin "tua" ilmunya dan semakin merasa bodoh tidak bisa apa2. Maka pamoring kawulo gusti itu adalah sudah berkesadaran ruhani dan menjadikan kebutuhan ruhani diatas kebutuhan jasmani.

Setelah mendra saking wisma maka akan menemui suatu keadaan kosong sejati (lelana lalading sepi), kosong disini adalah kondisi dimana tidak ada cahaya, tidak gelap maupun terang, tidak ada warna apalagi benda2, maka yg tersisa adalah yg berkata (sejatine ora ono opo2 kejobo sing kondho, sejatine ora ono opo2 sing ono kuwi dudu) kalau yg berkata itu tidak ada maka bagaimana bisa berkata "tidak ada apa2", maka inilah yg dinamakan kesaksian total tidak hanya sebatas ikut2an bersyahadat tapi tidak pernah bersaksi sekalipun. Secara garis besar syahadat itu ada 3 macam yaitu syahadat cermin yg sangat bening (telenging rahsa) yg berbunyi "laa ilaaha illa huwa" atau tiada sesuatu apapun melainkan Dia, kemudian syahadat Nur Muhammad yg berbunyi "laa ilaaha illa anta" atau tiada sesuatu apapun melainkan Engkau dan yg terakhir adalah syahadat Allah yg berbunyi "laa ilaaha illa anna" atau tiada sesuatu apapun melainkan Aku (Allah), dan syahadat yg terakhir itu kalau diucapkan pada hamba yg sudah makrifat adalah "tiada sesuatu apapun kecuali ingkang jumeneng kalawan pribadi" jumeneng kalawan pribadi itu qiyamuhu binafsihi atau berdiri dengan sendirinya tidak tergantung pada apapun. Inilah hakekat terdalam dari syahadat "laa ilaaha illallah" yg sering kita ucapkan manakala sedang sholat, maka pahamilah dengan hati2 supaya tidak terjebak kedalam kesesatan keakuan sepihak atau sombong.

Setelah bersaksi di alam suwung sejati maka kita akan dengan mudah mempelajari ilmu apapun secara mendalam (ngingsep sepuhing supana), bagi yg sedang sekolah atau kuliah maka setiap kali mau belajar maka hendaknya mengosongkan pikiran dan hati terlebih dahulu supaya ilmu2 yg akan dipelajarinya mudah untuk masuk, apa yg menjadi sebab ketika malas belajar adalah pelajaran itu membosankan, mengapa kita bosan atau tidak suka sesuatu? karena ego yg menghalangi diri kita, bagi yg sangat suka matematika maka belajar matematika itu seperti ketemu pacar, sedangkan apabila tidak suka matematika dan belajar matematika maka ibarat ketemu selingkuhan pacar/suami/istri kita, bencinya bukan main. Mengapa kok bisa benci sedangkan disisi lain bisa cinta? karena itulah apabila kita tidak melabuhkan semua hak milik kita ke Allah Yang Maha Memiliki, ego itu bersifat mengakui apa yg kita cintai menjadi milik kita sendiri dan menjadikan pihak lain yg mengakui milik kita menjadi musuh besar kita, ini akan berbeda apabila arti cinta itu membebaskan, membebaskan orang yg kita cintai utk memilih apa yg menjadi pilihannya yg terbaik dan yg terbaik tentu ditangan Allah. Maka apabila kita melabuhkan segala pikiran kita kepada Allah atau mengosongkan pikiran kita dari kotoran2 ego pribadi maka tidak ada lagi pelajaran yg dibenci, semuanya dicintai.

Setelah mempelajari ilmu secara mendalam maka tentukanlah apa tujuan hidup kita yg sejati (mrih pana pranaweng kapti), tentu saja tujuan hidup kita sejati itu Allah, dari Allah menuju Allah sedangkan dunia itu cuman mampir sebentar untuk minum, minum dari samudera ilmunya Allah yg digelar di dunia ini supaya kita bisa kembali ke Allah dengan sebaik baiknya, ilmu Allah itu adalah syari'at yg diteruskan ke tarekat lalu hakekat dan terakhir makrifat.

Didalam jalan menuju Allah maka kuatkanlah tekad serta berusaha dengan tekun (tis tising tyas marsudi), tekun disini bermakna setia dan telaten mengikuti arah teken atau petunjukNya dan ungkapan jawa berbunyi "sapa sing tekun golek teken bakal tekan" siapa saja yg sepanjang hidupnya terus menerus mencari petunjuk Allah dan mengikutinya maka akan sampai ketujuan, petunjuk itu tidak hanya syari'at didalam Qur'an dan hadits tapi juga petunjuk2 tersirat dari segala ciptaanNya dan petunjuk2 dari dalam hati yg terdalam.

Setelah menentukan tujuan hidup kita maka selanjutnya adalah mengolah segala petunjuk2 itu dengan akal budi kita (mardawaning budya tulus) dan menghayati cinta kasih (mesu reh kasudarman). Akal budi kita berdayakan utk mewujudkan segala cita2 kita, segala cita2 kita yg bersifat keduniaan maupun akherat maka hendaknya diwujudkan dengan cara2 yg berbudi atau berakhlak mulia dan mencintai sesamanya, salah satu contoh tujuan hidup yg untuk Allah tapi tidak diolah dengan akal budi yg baik adalah para pengebom bunuh diri, mereka tahu tujuan hidup mereka untuk Allah walaupun ada juga yg demi mendapatkan surga dan mereka tidak berpikir bahwa mencintai sesama itu adalah jihad juga, alangkah indahnya apabila ajaran agama disampaikan dengan rasa cinta kasih antar sesama tanpa rasa benci sedikitpun, mereka juga tidak berpikir apa dampak dari pengeboman itu terhadap keluarga para korban, mereka hanya memikirkan diri sendiri masa bodoh dengan orang lain, sesungguhnya ini bukan ajaran Islam, Islam itu damai dan berserah diri sebab kata Islam berasal dari kata "salaam".

Bagian terakhir dari bait ini adalah kesungguhan dari tekad kita didalam mewujudkan cita2 kita karena Allah dan mengharap curahan ilmu dari tepi samudera ilmuNya Allah (Neng tepining jalanidhi) maka Allah berkenan memberikan setetes dari samudera ilmuNya Allah oleh karena kuatnya tekad dan kesungguhan kita (sruning brata kataman wahyu dyatmika). Walaupun setetes bagi Allah tapi menjadi sebanyak lautan ditangan kita, segala sesuatu yg sangat kecil tapi disyukuri maka akan menjadi sangat besar, segala sesuatu perbuatan baik kita sekecil apapun apabila kita benar2 ikhlas karena Allah maka akan menjadi perbuatan besar yg nilainya tak terhitung ibarat bilangan berapapun dibagi nol akan menjadi tak terhingga dan nol adalah simbol dari ikhlas.

Artikel yang terkait sebelumnya
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 1-2
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 3-5
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 6-8
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 9
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 10-11
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 12
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 13-14
Terjemahan Serat Wedhatama Sinom 1
Terjemahan Serat Wedhatama Sinom 2




LANJUTKAN MENYIMAK.....

Wednesday, October 28, 2009

Budaya Adalah Ruh Nusantara



Setelah jalan2 di rumah sesepuh antara lain Ki Sabdalangit, Ki Wongalus, Ki Kumitir dll maka saya membulatkan tekad dan memantapkan diri untuk ikut didalam sumpah budaya 2009 ini, tekad dan hati perlu kita mantapkan supaya tidak hanya bisa latah dan ikut2an tapi supaya lebih menjiwai dengan apa yg telah kita sumpah/ucapkan didalam sumpah budaya ini.

Kebudayaan yang adiluhung adalah ruh dari Nusantara, kearifan lokal dari Sabang sampai Merauke sungguh sangat beragam macamnya dan mempunyai corak masing2, maka dari itu Nusantara/indonesia sungguh sangat beruntung karena memiliki corak budaya yang adiluhung beraneka macam dan sungguh sangat sayang apabila ditinggalkan generasi muda sekarang ini. Bagi kami budaya adalah ruh dari Nusantara, bagi kami keanekaragaman adalah rahmat yang memberi warna tersendiri bagi bangsa ini, dengan beraneka ragam maka keindahan pelangi nusantara bisa tetap indah bahkan semakin indah dari waktu ke waktu. Sungguh disayangkan apabila ada sekelompok orang yg ingin memaksakan suatu keyakinan atau pendapat supaya orang lain mengikuti pendapat itu. Bagi kami Jawa itu sebaiknya kejawa-jawaan, Sunda kesunda-sundaan, Melayu kemelayu-melayuan, Bugis kebugis-bugisan, Indonesia keindonesiaan, bukannya malah kearab-araban, kebarat-baratan, keindia-indiaan dsb. Didalam khasanah budaya Jawa mengenal sosok Semar toko asli Jawa/nusantara, Semar bertugas memomong seluruh raja2 Jawa dari dulu hingga sekarang, ini mempunyai makna bahwa bolehlah agama2 luar masuk ke Nusantara tapi kearifan dan budaya tetap terpelihara sepanjang generasi muda ikut melestarikannya, Agama boleh sama dengan orang di jazirah Arab/Eropa, kitab suci boleh sama dengan orang di jazirah Arab tapi pendapat, kearifan dan budaya boleh beda, maka dari itu hendaknya kita memprioritaskan pelestarian budaya lokal ketimbang ikut2an budaya Arab, Eropa, Jepang, India dsb. Dari budaya Jawa, Sunda, Bugis, Melayu dsb maka hendaknya kita labuhkan kedalam lautan Indonesia yg satu untuk kita persembahkan ke dunia sebagai taman sarinya dunia, yakinlah bahwa Indonesia akan menjadi taman sarinya dunia.

Globalisasi di ranah ide, gagasan, ilmu pengetahuan yang diiringi dengan teknologi berkembang amat pesat. Lebih cepat dari kemampuan manusia untuk merenungkan apa hakikat semuanya untuk kemanfaatan hidup. Orang tidak lagi disibukkan dengan pertanyaan untuk apa kita memiliki ilmu, pengetahuan dan teknologi. Namun lebih menekankan pada fungsi-fungsi kemanfaatan/pragmatisnya semata. Semua pada akhirnya mengikuti arus globalisasi secara latah dan masa bodoh dengan hakikat progress/kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa hakikat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk penyempurnaan proses hidup manusia menuju kesatuan dan keserasian lahir batin, jiwa dan raga.

Budaya Populer adalah budaya yang berada di pusaran arus global. Sayangnya, perkembangan budaya global justeru mematikan budaya-budaya nasional dan budaya lokal yang ada. Budaya lokal secara substansial tidak mengalami kemajuan yang berarti kecuali hanya untuk sarana komoditas ekonomi dan turisme saja. Budaya yang merupakan hasil manusia untuk mengolah daya cipta, rasa dan karsa berdasarkan atas kehendak dan keinginan masing-masing individu dalam sebuah wilayah tidak mampu lagi dianggap sebagai sebuah kearifan.

Individu yang berada di ruang-ruang budaya pun menjadi tumpul oleh arus pragmatis budaya global yang mungkin dipandang lebih menarik, mudah, cepat dan efisien. Para pengambil kebijakan tidak lagi memiliki semangat yang menyala untuk nguri-uri kebudayaan lokalnya. Apalagi bila semua pihak tidak mendukung lahirnya kreativitas-kreativitas baru berkebudayaan dan berkesenian.

Ini adalah situasi di mana kita mengalami sebuah Degradasi Budaya bahkan kehancuran sistematis budaya lokal. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat berbudaya dalam rangka kebersatuan berbagai budaya lokal untuk maju dalam frame bangsa dan negara pun hanya sebagai slogan yang kini semakin dilupakan.

Tumbuh berkembang serta kemajuan sebuah budaya ditentukan pada bagaimana kita semua merespon dan menjawab tantangan-tantangan budaya global. Respon dan jawabannya adalah agar kita kembali kreatif, inovatif dan menciptakan wilayah-wilayah perjuangan budaya yang mampu menjadi alternatif budaya global yang terbukti tidak memiliki “ruh” kemanusiaan yang utuh.

Justeru pada budaya lokal, kita menemukan kembali “ruh” kemanusiaan itu. Ruh yang akan menyinari individu agar bisa bergerak secara harmonis antara individu dengan individu yang lain, antara individu dengan alam semesta, bahkan antara individu dengan dirinya sendiri sehingga nantinya individu tersebut akan menemukan diri sejati yang merupakan wakil Tuhan di alam semesta.

Siapa yang harus memulai untuk melakukan penyadaran adanya degradasi budaya ini? Sebuah fakta sejarah terjadi pada 28 Oktober 1928 saat para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda. Intisari dan hakikat dari Sumpah Pemuda adalah kesadaran bahwa semua elemen bangsa harusnya memiliki kehendak, keinginan, cita-cita yang sama untuk mewujudkan sebuah kesatuan wahana dan ruang kreativitas dan kebebasan ekspresi yang berbeda-beda.

Jembatan untuk memasuki wahana persatuan dan kesatuan tersebut adalah tanah air, bangsa dan bahasa. Setiap babakan sejarah, pemuda selalu menjadi motor penggerak perubahan zaman. Sejarah telah menegaskan tentang kepeloporan pemuda di era kolonial hingga era perjuangan kemerdekaan bahkan di era reformasi. Perjuangan pemuda selalu dihadapkan pada tantangan hambatan dan kesulitan, bahkan darah dan airmata menjadi taruhan.

Di era masa lalu, gerakan kepemudaan lebih berorientasi pada bidang politik. Kini tantangan kaum muda masa kini justeru lebih banyak berupa rongrongan budaya global yang sangat berpengaruh pada pola pikir dan gaya hidup mereka sehingga harusnya gerakan kepemudaan kini lebih diorientasikan pada bidang budaya local (local wisdom).

Pemuda harus memiliki semangat untuk bersatu, lepas dari penindasan dan penguasaan budaya global. Kita berharap agar bangsa Indonesia bisa menghidupkan kembali budaya-budaya lokal yang ada sehingga nanti terwujud bangsa yang maju berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.  Kita buka mata  dan hati kita, lihatlah bangsa India, Cina, Jepang, Thailand, dan Korea telah membuktikan sendiri. Bangsa yang meninggalkan pola hidup taklid hanya ikut-ikutan, ela-elu. Kini telah tumbuh menjadi macan Asia, dihormati dan segani masyarakat dunia, bangkit meraih kejayaan dengan berlandaskan loyalitasnya terhadap nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang terdapat dalam tradisi dan budayanya.  Bangsa yang tahu karakter diri sejatinya, sangat tahu tindakan apa yang harus dilakukannya. Sementara itu, bangsa kita lebih kaya akan ragam budaya dan kearifan local. Didukung sumber daya alam, kita akan mampu menjadi bangsa yang lebih jayaraya dari bangsa-bangsa tersebut.

Sumpah Pemuda merupakan momentum yang berhasil menyatukan pemuda se-Indonesia dalam satu ikatan kebangsaan, perasaan senasib, sepenanggungan yang diderita oleh pemuda khususnya, telah memberikan kesadaran kritis terhadap situasi yang dihadapinya yaitu adanya sebagai tantangan bersama telah membangkitkan kesadaran kolektif pemuda untuk melawan penindasan budaya global. Diperlukan gerakan massif untuk menghidupkan kembali budaya-budaya lokal (baca; kearifan lokal) di tanah air secara terus menerus sebagai bentuk nyata dari perjuangan kaum muda.

Perjuangan kaum muda di bidang budaya diharapkan akan membawa perubahan sosial yang mendalam bagi masyarakat, terutama di bidang pendidikan. Dari pendidikan ini muncullah pejuang-pejuang muda yang kaya akan ide dan konsep untuk melawan budaya global.

Untuk mewujudkan ide tersebut maka dengan ini kami menyerukan kapada SEMUA PEMUDA DI TANAH AIR untuk bersatu dalam gerakan SUMPAH BUDAYA 2009:

   1. MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA

   2. MENJADIKAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PIJAKAN IDE-IDE KREATIF PEMBANGUNAN


   3. MENGEMBANGKAN KEARIFAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI NILAI-NILAI PEMBANGUNAN NASIONAL


   4. MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI MORAL, MENTAL DAN AJARAN HIDUP BERMASYARAKAT YANG ADA DI BUDAYA DAERAH DALAM RANGKA MENDUKUNG PERKEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA.


   5. MENGURANGI PENGARUH NEGATIF BUDAYA GLOBAL DENGAN MENGEMBANGKAN BUDAYA NUSANTARA

MOTTO :

THINK LOCALLY ACT GLOBALLY !!

SUMPAH BUDAYA

BERBUDAYA SATU, BUDAYA NUSANTARA

BERJATI DIRI SATU, JATI DIRI BANGSA INDONESIA

KASIH SAYANG SATU, KASIH SAYANG LINTAS AGAMA


Tertanda:
1. Ki Wong Alus
2. Ki Sabdalangit
3. Ki Alang alang Kumitir 
4. Ki Agung Hupodhio
5. Ki Ngabehi
6. Mas Tomy Arjunanto
6. M4stono
7...........dst



silahkan diisi sendiri kelanjutannya sebagai tanda untuk ikut bertekad mengembalikan jati diri bangsa lewat budaya dan kearifan lokal.
LANJUTKAN MENYIMAK.....

Monday, October 26, 2009

Terjemahan Serat Wedhatama Sinom 2



Pada suatu malam selepas isya' Tono sedang didepan komputer untuk mengetik lanjutan dari terjemahan Serat Wedhatama, dirinya tampak bingung mau nulis apa sebab dirinya tidak tahu apa2 tentang bahasa kawi apalagi filosofi yg terkandung didalam seratan tersebut. Tak lama kemudian Noto masuk ke kamar Tono sambil melihat hasil "karya" Tono yg masih berupa layar putih kosong.

"lho kok belum ada tulisannya?" tanya Noto kepada Tono, yg ditanya malah balik tanya "emang kamu baru tahu kalo aku ini cuman bisa makan dan tidur?" mendengar saudaranya balik tanya, Noto hanya tertawa kecil lalu menyingkirkan asbak dan bungkus2 rokok yg berserakan di atas kasur Palembang berwarna merah yg menjadi alas bagi Tono untuk duduk didepan komputer, memang Tono itu malasnya bukan main, setiap kali rokoknya habis bungkusnya dibiarkan saja berserakan, begitu pula dengan bungkus kacang atom yg tidak kalah berserakan dan juga puntung rokok yg telah menggunung di asbak yg sebesar mangkuk itu. Setelah selesai membersihkan kasur, Noto lalu bertanya "memang tujuan kamu apa membikin blog segala, kan kamu juga harus tahu konsekuensinya dan apa untuk pamer kepandaian kepada pembaca blognya?" diberondong pertanyaan itu Tono sambil sedikit mikir2 menjawab sekenanya "lha kalo gak bikin blog kita kan gak terkenal, lagi pula apa salahnya berbagi informasi, maka dari itu brat...aku nunggu kamu dari tadi...ayo dong jelaskan makna filosofi dari lanjutan Serat Wedhatama di pos ronda kemaren...ayo dong pliiiss....sementara kamu ngetik aku mo bobok dulu....ntar aku yg ngejawab komeng2 ajaib yg nyasar di blog kita...hihihihihi...bobok dulu aaahhh" seketika Tono langsung berbaring dikasur meninggalkan Noto sendirian didepan komputer, lalu tak lama kemudian terdengar celotehan Tono yang sedang asyik membayangkan Ngatemi "hmmm...nyam nyamm...duh dik Ngatemi sayaaang...ailapyuuuuu..." tiba2 terdengar jeritan Tono yg kesakitan "waduuuuuuuh biyuuuung...punggungkuuu kumaaaaat....bajingaaaaaaan......aaaasssss..." tiba2 Noto langsung menutup mulut Tono sambil tangannya mengacungkan telunjuknya dimulut untuk tanda diam, sambil meringis kesakitan Tono lalu meneruskan omongannya yg belum selesai "maksudnya...aaaaassssseeemmmm..bukan aaasss yg lain..." dijawab oleh Noto "kamu ini sukanya berkata kotor dan jorok, apapun itu tidak boleh kamu mengumpat atau memaki, ntar punggung kamu tambah sakit lho, sini aku obati" lalu Noto memegang punggung Tono sambil menyalurkan tenaga dalamnya untuk mengobati punggung Tono, sambil memegang punggung Tono, Noto lalu menembangkan Serat Wedhatama lanjutan dari yg ditembangkan Ngatemi.

02
Samangsane pasamuan,
mamangun marta martani,
Sinambi ing saben mangsa,
Kala kalaning asepi,
Lelana teki-teki,
Nggayuh geyonganing kayun,
Kayungyun eninging tyas,
Sanityasa pinrihatin,
Puguh panggah cegah dhahar lawan nendra.

"Dalam setiap kita bergaul atau di pergaulan maka kita harus membangun suatu sikap tahu diri terhadap lawan bicara kita (Samangsane pasamuan, mamangun marta martani) maka dari itu untuk mewujudkan sikap tahu diri yang pas dan bisa diterapkan kepada orang banyak maka kita harus sering2 bertafakur lalu bertadzabur setiap ada kesempatan dan waktu longgar (sinambi ing saben mangsa, kala kalaning asepi), bertafakur itu artinya berpikir akan kekuasaan Allah yg terbentang diseluruh penjuru jagat raya betapa kecilnya kita ini, jangankan kita, wong bumi aja seperti setitik debu di jagat raya ini, lalu kita bertadzabur itu maksudnya melihat menembus kedalam atau berdzikir dengan menyebut namaNya tidak cukup hanya dimulut sekian kali tapi didalam hati sambil meresapi makna dari nama2 Nya yg kita sebut, sesungguhnya Nur dari nama2 Nya itu ada dibalik ciptaanNya. Didalam bertafakur dan bertadzabur maka hendaknya kita pergi ke alam terbuka supaya bisa lebih meresapi laku pikir dan dzikir kita (Lelana teki-teki), kalau orang jaman dulu lakunya adalah dengan bertapa di gua, gunung atau tempat2 sepi yg jarang dijamah manusia, tapi sekarang hal itu tidaklah harus dilakukan mengingat sudah hampir tidak ada lagi tempat2 yg sepi dari aktivitas manusia maka laku didalam berfikir dan berdzikir itu cukup sambil bersepeda atau jalan jalan dialam terbuka sambil mensyukuri keindahan pemandangan alam yg terbentang. Didalam pikir dan dzikir kita maka selipkanlah suatu cita2 kita bisa berupa keinginan2 yg bersifat keduniaan seperti ingin kaya, kedudukan dll semua itu boleh kita cita2kan dengan syarat semua itu harus kita labuhkan dijalan Allah atau semua karena Allah (nggayuh geyonganing kayun), akan tetapi cita2 yg paling mulia adalah agar diri kita segera di lenggahi atau diduduki oleh rahman dan rahimNya, dengan kata lain kita sudah sampai pada taraf makrifat atau penuh dengan kearifanNya.

Lalu Noto berhenti sejenak untuk mengambil nafas lalu memperhatikan Tono yg sedang memjamkan mata sambil senyum2 sendiri, melihat itu Noto lalu berujar "kalau kamu ingin menulis artikel maka dengarkan dan perhatikan semua penjelasanku" sambil masih senyum senyum sendiri Tono berkilah "aku perhatiin kok, tenang aja brat supaya pelajarannya cepat masuk maka aku membayangkan sedang dipijetin dik Ngatemi sayangku...hmmm...enaaak.." Noto tampak pasrah mendengar bantahan Tono, lalu dia melanjutkan penjelasannya "ya sudah terserah kamu saja....nah lanjutan dari pikir dan dzikir yg barusan kita bicarakan adalah menerapkannya didalam kehidupan sehari hari dengan senantiasa menjaga hati untuk prihatin atau menahan hawa nafsu (Sanityasa pinrihatin), semua laku didalam menahan dan mengendalikan hawa nafsu itu harus diawali dengan niat dan tekad yg kuat lalu membatasi makan dan tidur (Puguh panggah cegah dhahar lawan nendra). Membatasi makan itu maksudnya adalah makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang, seperti kita tahu bahwa apabila makan sampai kekenyangan maka itu tidak baik bagi kesehatan, idealnya adalah sepertiga diisi makanan padat, sepertiga diisi air lalu sisanya udara, dengan kata lain makan ala kadarnya sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan, lebih bagus lagi laku cegah dhahar itu kita lakukan dengan berpuasa, sesungguhnya dengan berpuasa maka kita semakin mendekatkan diri kepadaNya dan doa2 kita akan cepat terkabulkan".

"Lalu membatasi tidur itu maksudnya adalah bangun malam untuk sholat tahajud, sebelum sholat maka kita dianjurkan tidur terlebih dahulu walaupun sesaat, tapi tidur yg dimaksud disini adalah tidur yg bermutu, lalu bagaimana tidur yg bermutu itu? tidur yg bermutu itu tidak didahului dengan menguap, begitu terasa ingin tidur langsung tertidur. Laku yg dilakukan untuk mendapatkan kualitas tidur yg baik adalah bekerja disiang harinya dengan niat karena Allah, apabila niat karena Allah itu kuat menancap maka kerja kita akan terasa ringan dan tidak berharap imbalan (sepi ing pamrih rame ing gawe) lalu ketika petang tiba maka sehabis sholat maghrib kita mengaji dari perbuatan kita di siang hari, apabila ada salah2 didalam tindakan dan ucapan maka mohon ampunlah kepada Allah dan bertekad untuk tidak diulanginya di keesokan harinya, segala perbuatan kita yg baik2 disiang hari hendaknya kita syukuri dan kita tekadkan untuk kita tingkatkan di keesokan harinya. Setelah isya' tiba maka bersegeralah sholat isya lebih bagusnya berjamaah di masjid dan setelah isya' maka segala urusan di siang harinya hendaknya kita akhiri hingga waktu isya' tiba, karena isya' adalah awal dari hari kita yaitu waktu isya' adalah waktu dimana hanya hubungan kita dan Allah semata maksudnya adalah awal hari dimulai dengan berserah diri kepadaNya yg dimulai dgn waktu isya' dan diakhiri dengan mengaji di waktu maghrib, kecuali kalau ada pekerjaan lembur".

"Didalam mengisi waktu selepas sholat isya' maka kita isi dengan berdzikir kepadaNya, apabila ada acara atau keperluan keluarga hendaknya kita selesaikan segera dengan tidak mengurangi kekhusyukan dzikir kita kepada Allah, ditengah tengah dzikir kita maka akan timbul rasa kantuk yg bermutu untuk mengawali kualitas tidur kita yg bermutu. pada dasarnya ketika kita mengantuk adalah segala kepemilikan serta kesadaran akan tubuh kita akan diambil oleh Allah, ketika kita tidur maka segala kesadaran akan tubuh kita serta kepemilikan telah diambil oleh Allah maka tidak mungkin kita membawa harta kita kedalam mimpi kita. Ciri ciri tidur yg bermutu adalah tidak disertai menguap, hati kita terjaga ketika tidur maka kita akan tersadar didalam mimpi kita dan tetap berdzikir walaupun tubuh kita tertidur dan ketika terbangun maka akan tepat waktu seperti rencana kita sebelum tidur dan badan akan terasa segar tidak pusing dan tidak lemas, itulah tidur yg bermutu. setelah bangun di sepertiga malam terakhir maka kerjakanlah sholat tahajud secukupnya maka kita telah mengawali hari dengan sebaik baiknya. Nah itulah makna dari tidur yg bermutu yg dilanjutkan dengan sholat malam dan baiknya sholat itu lebih baik dari baiknya tidur".

lalu Tono melirik kearah Noto yg sedang memegang punggungnya yg sakit sambil berkilah "haaalaah mo sholat tahajud aja syaratnya buaanyak amiiir, tinggal pasang weker disetel jam 3 pagi dah rampung...." dengan tersenyum Noto menjawab "kalau hanya sholat tahajud ya memang begitu tapi alangkah baiknya kalau segala laku itu kita kerjakan berurutan, tidak tergesa gesa dan isitiqomah demi mendapatkan hasil yg terbaik, seperti kalau kita ingin pergi jauh keluar kota dan menginap maka perlu kita siapkan pakaian, bekal uang yg cukup serta tidak lupa berdoa supaya selamat sampai tujuan, apa ya kalau kita mau pergi ke Jakarta hanya memakai celana kolor dan membawa uang seadanya, coba dibayangkan mana yg lebih baik" lalu Tono berkilah lagi "iya siih....tapi menurutku asal bangun tengah malam dan sholat itu maka kita telah mengerjakan sholat tahajud, masalah ntar sholat kita diterima apa tidak itu kan urusan Allah...tul gak" lalu Noto diam sejenak dan berkata "kamu memang betul bahwa segala amal dan ibadah kita tidak dijamin akan diterima Allah, tapi kalau kita mempersiapkan ibadah kita secara bersungguh sungguh dan serius maka itu akan menambah kekhusyukan kita didalam sholat serta akan mendapat nilai tambah dari kesungguhan kita tersebut".

"Coba kamu gerakkan punggungmu" pinta Noto, lalu Tono menggoyangkan punggungnya kekanan dan kekiri lalu tampak sumringah dan berteriak "hoooyeeee punggungku sembuuuh....makaciiih mas Noto ganteeeng...iiihh gemeeess deh" sambil mencubit pipi Noto berkali kali, Noto hanya diam saja dan ikut senang melihat Tono sudah sembuh sakit punggungnya, "nah karena punggungmu sudah sembuh maka tugas kamu adalah menulis artikel terbaru dari penjelasanku tadi, terserah bagaimana tulisannya asal dengan niat yg baik dan jangan pamer" pinta Noto, dengan riang gembira Tono pun merespon permintaan Noto "oke boss...iiih kamu ini memang pandai....coba kalo gak ada kamu maka blog kanktono ini gak akan ada dan kita gak akan terkenal...hihihihihi....maklumlah aku kan gak mudeng dengan hal2 kek ginian...lagipula aku lebih suka liat Miyabi ketimbang nulis yg berat2 kek ini...hihihihi" jawab Tono terkekeh sambil memulai mengetik apa yg dijelaskan Noto barusan.




Artikel terkait sebelumnya
LANJUTKAN MENYIMAK.....

Thursday, October 22, 2009

Terjemahan Serat Wedhatama Sinom 1



Karena ini adalah pupuh Sinom maka saya akan menggunakan wayangan Ngatemi sebagai tokoh utama disamping Noto dan Tono, maka nikmatilah dialog khas anak muda yang santai tapi serius.

Selepas maghrib Ngatemi nampak menangis dikamarnya karena habis dimarahi Pak Pono bapaknya, terang saja Pak Pono marah karena anak semata wayangnya mau diajak orang tak dikenal untuk pelesir ke Jakarta untuk dijanjikan pekerjaan tapi malah tidak jadi, tampak penyesalan di diri Ngatemi karena mudah tergoda oleh rayuan sesorang yg baru dikenalnya, semua itu dilakukan dirinya karena tergoda oleh banyaknya duit yang akan diterimanya seperti cerita orang2 kampung sebelah yg sukses merantau ke Jakarta. Terdengar HP nya berdering tanda ada SMS masuk, Ngatemi pun bergegas membuka isi pesan singkat yg baru masuk itu, tampaknya datang dari Noto, isi pesan itu adalah "Dik Ngatemi sy tgg di pos ronda ma tono....cptan..." sebenarnya Ngatemi malas ketemu mereka berdua karena malu disamping telah menolak cinta mereka tapi juga karena kepergiannya di Jakarta tanpa pamit, tapi apa mau dikata daripada dirumah suntuk dan bapaknya masih memasang tampang galak maka Ngatemi pun diam2 pergi meninggalkan rumah menuju pos ronda di pertigaan jalan.

Sesampai di pos ronda Ngatemi melihat Tono dan Noto yg tampak sedang menunggu kedatangannya, Noto dengan baju lengan panjang kotak2 dan memakai sarung berwarna merah sedangkan Tono hanya memakai kaos oblong celana pendek, "monggo dik Ngatemi silahkan duduk" kata Noto sambil memberi ruang untuk tempat duduk Ngatemi, tampaknya Ngatemi memilih duduk disebelah Noto ketimbang duduk diantara kedua pemuda kembar tsb, rupanya dia masih marah kepada Tono atas perlakuannya yg tidak senonoh kepada dirinya tempo hari, melihat gelagat tersebut maka Noto berusaha menenangkan Ngatemi sambil berujar "sudahlah dik...Tono sudah menyesal kok dengan apa yg dilakukannya tempo hari, tolong maafin Tono ya dik" Ngatemi pun hanya mengangguk pelan, sebenarnya dia sudah memaafkan Tono jauh2 hari mengingat kelakuan Tono yg sableng tapi lucu juga kadangkala menghibur dirinya. Ngatemi pun bertanya "sebenernya ada apa sih kok mas Noto pake SMS saya segala, ada yg penting yach..? sebelum dijawab oleh Noto, Tono pun ikutan menimpali "iya nih ada apa sih brat...gangguin orang lagi ngegame aja..." buru2 Noto berusaha menenangkan kedua sahabatnya itu "tenang kawan kawan....tenangkan hati kalian, kita disini untuk menghibur dik Ngatemi yg baru saja dimarahin bapaknya" Ngatemi tampak kaget bercampur malu ketika Noto tahu dirinya habis dimarahin bapaknya, Noto pun menyambung ucapannya "dik Ngatemi pandai nyanyi kan? coba dik Ngatemi membaca bait2 Wedhatama ini supaya hatinya tenang...o ya ditembangkan yg keras yah supaya saya dan Tono bisa mendengar suara merdu dik Ngatemi" Noto lalu menyodorkan secarik kertas berisi tulisan bait2 Wedhatama. "iihh apaan sich kok disuruh nembang segala...iya sih aku pernah juara karaoke se RT tapi kalo tembang jawa mah ogaaah..." kata Ngatemi setengah protes, "sudah baca aja yg keras...ini juga demi kebaikan dik Ngatemi sendiri" kata Noto sedikit memaksa, melihat tampang Noto yg serius Ngatemi pun akhirnya nurut juga, diambilnya kertas itu lalu diam sejenak mengingat ingat irama dari Sinom yg dipelajarinya waktu SD dulu.

01
Nulada laku utama
Tumrape wong Tanah jawi,
Wong agung ing Ngeksiganda,
Panembahan Senopati,
Kepati amarsudi,
Sudane hawa lan nepsu,
Pinepsu tapa brata,
Tanapi ing siyang ratri,
Amamangun karyenak tyasing sesama.



"Cukup dik Ngatemi, sampai bait 1 saja ntar kepanjangan" Noto memotong tembang yg dibawakan Ngatemi dan segera mengakhiri tembangannya, rupanya Tono mendengarkan dengan seksama bait yg didendangkan Ngatemi tapi dari sisi yg berbeda, bagi Tono suara Ngatemi si juara karaoke se RT itu terdengar mendayu dayu dan mendesah desah mirip penyanyi dangdut yg menggairahkan, maklumlah otak Tono memang penuh dengan hal2 cabul. Noto tampak merenung sejenak mencari inspirasi untuk menterjemahkan bait yg ditembangkan Ngatemi, lalu dia mulai berujar "mari kita pelajari bait agung warisan leluhur kita untuk kita jadikan pelajaran sebagai orang muda supaya bisa bertransformasi menjadi lebih baik, nah dimulai dari bait pertama.....mari kita mencontoh perilaku yg baik dan utama (nulada laku utama) bagi orang jawa atau nusantara (tumrape wong tanah jawi) yaitu orang yg besar dan terhormat di Mataram (wong agung ing Ngeksiganda) adalah Panembahan Senapati yang tekun didalam hal mengurangi dan mengendalikan hawa nafsu (kepati amarsudi, sudane hawa lan nepsu) dengan jalan prihatin dan bertapa (pinepsu tapa brata) di siang maupun malam (tanapi ing siyang ratri) juga selalu berkarya membuat hati tenteram bagi sesama dengan kasih sayang (amamangun karyenak tyasing sesama)".

"Duuuh mas Noto kok pinteer sih, saya ajarin dong..." ujar Ngatemi memotong penjelasan Noto, Ngatemi tampak kagum dengan kepandaian Noto menterjemahkan bait2 yg berisikan kosakata jawa kuno tsb, rupanya bukan Noto yg tersanjung melainkan si sableng Tono yg merasa tersanjung "eheemmm...siapa dulu dong kembarannya...Tonooo gitu looh" lalu Ngatemi pun protes "yeee...kalo mas Tono mah ogah, makan diwarung bapak aja ngutang mlulu, abis itu gak bayar lagi...ih sebel" kata Ngatemi sambil cemberut, dan Tono tampak kegirangan melihat raut muka Ngatemi yg terlihat semakin cantik ketika cemberut, memang tujuan dia pura2 tersanjung adalah menggoda Ngatemi dan kali ini godaannya berhasil, dengan muka yg kegirangan Tono berkata sambil cekikikan "hihihihi....ayo brat dilanjut supaya pujaan hati kita seneng....walaupun kalo cemberut dik Ngatemi tambah cuaantik...tuh liat betul kan" sebenarnya Noto pingin juga ikut menggoda Ngatemi tapi berhubung si cantik ini sedang cemberut maka urung dilakukannya takut kalo ntar tambah marah 'sudah...sudah...heheheheh...dik Ngatemi memang tambah cantik deh kalo cemberut tapi jangan marah yaa...si Tono cuman bercanda kok....ya udah saya lanjutin.....Panembahan Senopati adalah raja pertama Mataram Islam yang bergelar Panembahan Senopati ing alaga Ngabdurrahman khalifatullah sayyidin panatagama, dilihat dari gelarnya maka beliau itu sudah bisa menjadi pemenang atas diri sendiri dari ego kepemilikan pribadi yg diakui secara sepihak dan bermandikan cahaya Nur Allah yg penuh Rahman dan Rahim maka berhak menjadi khalifah dibumi ini dalam arti sudah menjadi wakil Tuhan didalam menata agama dan negara".

"Ketika kita menjadi pemenang atas diri sendiri maka kita akan menggunakan nafsu muthmainah kita sebagai pemimpin dari segala nafsu kita, lalu apakah nafsu muthmainah itu? nafsu yg ingin selalu dekat kepadaNya, hanya nafsu muthmainah yg mendengar panggilanNya sedangkan nafsu2 lainnya hanya sibuk mengurusi keduniaan, maka apabila anggapan bahwa panggilan itu hanya berlaku untuk umat Muhammad itu benar separo, benar dalam arti umat muhammad itu umat yg terpuji atau umat yg menjunjung tinggi akhlak mulia serta mempraktekannya didalam kehidupannya sehari hari apapun dien atau agama yg dianutnya, salah apabila umat muhammad itu diartikan sebagai hanya umatnya Nabi Muhammad SAW karena yg berperilaku terpuji itu tidak hanya umat Nabi SAW tapi juga umat nabi2 lainnya, sedangkan umat nabi SAW juga banyak yg bermoral bejat maka itu tidaklah mendengar panggilanNya" lalu Noto menghentikan penjelasannya sejenak melihat Ngatemi yg sedang menatap kearahnya sedangkan Tono tampak asyik menatap Ngatemi dan mengagumi kecantikannya sambil pikirannya melayang layang tidak karuan.

"Lanjutin dong mas Noto.." Ngatemi tampak antusias, melihat ketertarikan Ngatemi terhadap pemaparannya, Noto pun semakin bersemangat dan sumringah "ok dik...bait ini sebenarnya tidaklah bertujuan menyanjung pribadi Panembahan Senapati tapi mari kita mencontoh beliau dalam olah rahsa atau olah hati yg paling dalam dan dimulai dari mengosongkan diri dari sifat kesombongan dan juga penyakit2 hati lainnya, apabila kita bisa mengosongkan hati dari hal2 yg bersifat keduniaan dan penyakitnya maka kita akan bisa mendengar suara guru sejati atau cerminan diri kita yg terbaik dari nur Muhammad yg dipantulkan oleh cermin yg sangat bening atau rahsa sejati, setiap orang punya bentuk rahsa sejati yg berbeda beda sesuai dengan karakternya tapi pada hakekatnya sama yaitu bening tanpa cela dan noda, guru sejati inilah cerminan sebaik baik diri kita yg akan menjadi teladan pribadi untuk kita contoh dan ikuti, tapi tentu saja bagi yg percaya. Apabila kita bisa mengikuti apa kehendak guru sejati maka diri kita akan bersatu dengan guru sejati dan menjadi diri sejati dan siap untuk diperkenankan oleh Allah untuk menjadi mata, telinga, tangan, dan seluruh indera kita atau rukun ikhsan, maka inilah khalifah yg sesungguhnya yg tanpa pengakuan tapi sudah diakui olehNya".

"Khalifah Allah inilah yg berhak menjadi pemimpin atas agama dan masyarakat, pemimpin atas agama bisa berarti ulama, syarat2 syar'i menjadi ulama yg berupa hafal Qur'an beserta sekian hadits serta mengetahui bahasa arab tidaklah cukup, karena bisa jadi iblis lebih mengetahui Qur'an dan hadits serta lebih fasih berbahasa arab ketimbang ulama tapi iblis bukan ulama malahan menjadi musuh kita yg nyata sifatnya, maka dari itu kebeningan hati serta terbebasnya diri dari segala kepentingan duniawi menjadi syarat mutlak bagi ulama supaya fatwa2 yg dikeluarkan tidak terkotori nafsu2nya sendiri dan sayangnya tidak semua ulama terbebas dari kotoran2 hati dan dunia, bagaimana mau menghasilkan fatwa yg benar kalau petunjuk Allah terhalang oleh kekotoran hatinya sendiri, ini hanya analogi sederhana bagaimana pentingnya menjaga dan membersihkan hati secara terus menerus. Begitu pula analogi bagi pemimpin masyarakat yg benar atau pamong praja, pamong itu sifatnya ngemong atau melayani, sebenarnya tidak tepat kalau pemimpin itu istilahnya pemerintah karena kesannya hanya bisa perintah sana sini tanpa memberi solusi sedangkan pamong itu disamping melayani juga bawahan dari masyarakat yg dipimpin itu sendiri, pengabdian kepada rakyat bagi pamong adalah nomer satu, sedangkan pamrih atau imbalan menjadi nomer sekian (sepi ing pamrih rame ing gawe). Sedangkan bagi pemimpin masyarakat yg salah adalah pangreh praja, pangreh itu hanya sebagai penguasa tanah atau feodal sedangkan rakyat hanya menjadi budak dari majikan tanah, maka segala kebijakan hanya mengacu pada kesejahteraan si tuan tanah sedangkan kesejahteraan rakyatnya nomer buncit, tapi diatas itu semua yg paling berbahaya adalah bersatunya ulama dan umara didalam menghisab rakyatnya dengan cara mengeluarkan fatwa2 penuh nafsu dunia dengan disertai dalil2 penguat dalam rangka politis untuk menguatkan kekuasaannya, memeras harta rakyat dan membelenggu kemerdekaan hak asasi rakyatnya supaya kemerdekaan berpikirnya bisa dibatasi semaksimal mungkin".

"Lalu bagaimana dong mas Noto supaya kita bisa menjadi pemenang atas diri sendiri....jangan sampai deh yg disebutin mas Noto terakhir itu terjadi di negeri kita...hiii...ngeriii" tanya Ngatemi sambil bergidik ketakutan, Noto tampak menghela nafas tanda penyesalan lalu menatap kearah Ngatemi dan Tono lalu melanjutkan penjelasannya "pertanyaan bagus dik Ngatemi, sayangnya yg terakhir itu sebagian sudah terjadi di negeri kita ini, semoga saja tidak semakin parah...tapi saya masih optimis bahwa suatu saat nanti kita akan bertransformasi ke arah lebih baik, dengan cara menjadi pemenang atas diri sendiri dan caranya adalah laku prihatin topo ngrame atau bekerja tanpa pamrih membantu orang lain dengan segenap keikhlasan dan rasa syukur kita, karena bertapa digunung atau di gua sudah tidak lazim lagi maka topo ngrame itulah solusi yg terbaik. Apabila kita ikhlas maka segala kepemilikan kta sudah kita pasrahkan kepada Allah dalam arti rasa miliknya, ketika kita berhasil mencapai "tidak punya rasa punya" maka segala langka dan perbuatan kita akan serasa ringan tanpa beban, kita akan menjadi manusia yg ringan tangan atau gemar menolong orang lain tanpa pamrih dan lakukanlah semua itu dengan penuh rasa syukur apapun hasil yg kita peroleh, syukur2 kita laku topo ngrame itu disertai puasa Dawud maka hikmah yg akan kita capai adalah sabar dan syukur disegala kondisi dan situasi serta gemar menolong terhadap orang lain tanpa pamrih".

"Dan jangan lupa kalau kita melakukan topo ngrame itu lakukanlah kapanpun baik siang maupun malam maka nafsu kita akan terkendalikan seperti makan secukupnya tidak berlebih, serta membatasi diri dari perbuatan2 yg kurang berguna seperti melihat sinetron atau infotainment di tivi serta bagi kamu Tono jangan kebanyakan main game hingga lupa sholat" merasa tersindir Ngatemi pun tersipu malu, maklumlah dirinya penggemar sinetron striping atau yg tayang tiap hari dan juga selalu mengikuti berita2 selebriti, sedangkan Tono adalah pecandu game, apabila main game bisa lupa hari tidak hanya lupa jam, tapi dasar Tono tetaplah Tono yg dulu, memang niat untuk berubah ada tapi tidak diiringi dengan perbuatan jadi niat tinggalah hanya niat saja. Noto memang sengaja menyindir kedua sahabatnya itu bukan karena dirinya merasa lebih baik tapi lantaran sangat sayang terlebih kepada Tono, sedangkan kepada Ngatemi hanya sebatas sahabat walaupun dirinya masih mencintai Ngatemi tapi karena sudah ditolak secara halus maka dia tidak ingin memaksa dan memilih membebaskan cinta Ngatemi kepada siapapun yg dia cintai karena Noto punya prinsip bahwa cinta itu membebaskan.

Setelah berhenti sejenak lalu Noto melanjutkan penjelasannya kembali "apabila kita sudah melakukan hal2 tersebut maka kasih sayang Allah dalam hal ini adalah Rahman dan RahimNya akan memancar kepada kita untuk kita pantulkan kepada sesama dalam bentuk perbuatan kita sehari hari yg penuh kasih sayang dan cinta kasih, itulah makna dari filosofi Panembahan Senopati tentu saja dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada beliau pribadi selaku raja Mataram juga leluhur kita" Noto lalu berhenti ngomong mendengar adzan Isya' berkumandang di masjid kampung, setelah adzan berhenti lalu Noto bergegas ke masjid sambil mengajak Tono "ayo kita ke masjid, rugi lho ntar tidak dapat pahala berlipat" Tono tampak mengedipkan mata memberi isyarat kepada Noto, tampaknya Noto tahu maksudnya dan berkata "sudahlah, percuma saja..." sambil bergegas ke masjid dan meninggalkan Tono berduaan dengan Ngatemi, rupanya inilah saat yg ditunggu Tono, rupanya dia lupa pernah ditampar Ngatemi tempo hari, sambil menggeser duduknya pelan2 kearah Ngatemi, Tono mulai melancarkan rayuan gombalnya "eheemmm...dik Ngatemii kita berduaan nih....enaknya ngapain yah..?" Ngatemi yg mencium gelagat kurang mengenakkan lalu pergi meninggalkan Tono sambil menggoyang kentongan sebesar guling di depan pos ronda itu dan berujar "pacaran aja ama kentongan...makan nih....hihihihi" Tono hanya bisa menggerutu ketika ditinggal Ngatemi lalu pulang kerumahnya untuk melanjutkan main game yg ditinggalkannya tadi, ya begitulah Tono walaupun niat untuk berubah ada tapi kelakuan tetap sama tidak berubah.

Ketika di perjalanan menuju rumah Ngatemi tampak ceria lagi karena terhibur dengan penjelasan Noto yg panjang lebar mengenai Panembahan Senopati, walaupun dirinya sudah menolak cintanya Noto tapi rasa kagum dirinya terhadap Noto tidaklah berkurang dan dia kali ini dia hanya menganggap Noto maupun Tono hanya sahabat dekat saja walaupun dia juga masih mencintai Noto tapi memang hati wanita tidak dapat diduga.



Artikel terkait sebelumnya
Terjemahan Serat Wedhatama Pangkur 13-14
LANJUTKAN MENYIMAK.....