Friday, May 29, 2009

Garing Gareng Garong


Alkisah pada suatu ketika sang Arjuna sudah menyelesaikan pertapaannya dan diikuti oleh para punokawan selaku abdi setia Arjuna, sang Arjuna sampai pada suatu hutan yg aneh, maka berkatalah pada Semar "kakang Semar, iki alas opo?, sebelum Semar menjawab sudah didahului oleh Gareng "Alas proyek ndoro"...lalu Petruk ikut menimpali "weee lha kowe ki ngerti proyek to Reng?..Gareng lalu menjawab "Kowe ki ra ngerti to Truk? aku ki Gareng yen cilik dadi garing, yen gedhe dadi garong.."
Begitulah kira2 penggalan dialog punokawan hasil improvisasi dalang yang artinya "kakang Semar ini hutan apa?... hutan proyek ndoro...weee lah kamu itu tahu proyek to Reng?...kamu itu nggak tahu ya Truk? aku ini Gareng kalau kecil jadi kering kalau besar jadi rampok". Lalu siapakah Gareng sebenarnya?

Dalam suatu cerita Gareng pernah menjadi raja di Paranggumiwayang dengan gelar Pandu Pragola. Saat itu dia berhasil mengalahkan prabu Welgeduwelbeh raja dari Borneo yang tidak lain adalah penjelmaan dari saudaranya sendiri yaitu Petruk.

Dulunya, Gareng berujud ksatria tampan bernama Bambang Sukodadi dari pedepokan Bluktiba. Gareng sangat sakti namun sombong, sehingga selalu menantang duel setiap ksatria yang ditemuinya. Suatu hari, saat baru saja menyelesaikan tapanya, ia berjumpa dengan ksatria lain bernama Bambang panyukilan. Karena suatu kesalah pahaman, mereka malah berkelahi. Dari hasil perkelahian itu, tidak ada yang menang dan kalah, bahkan wajah mereka berdua rusak. Kemudian datanglah Batara Ismaya (Semar) yang kemudian melerai mereka. Karena Batara Ismaya ini adalah pamong para ksatria Pandawa yang berjalan di atas kebenaran, maka dalam bentuk Jangganan Samara Anta, dia (Ismaya) memberi nasihat kepada kedua ksatria yang baru saja berkelahi itu.

Karena kagum oleh nasihat Batara Ismaya, kedua ksatria itu minta mengabdi dan minta diaku anak oleh Lurah Karang Dempel, titisan dewa (Batara Ismaya) itu. Akhirnya Jangganan Samara Anta bersedia menerima mereka, asal kedua kesatria itu mau menemani dia menjadi pamong para kesatria berbudi luhur (Pandawa), dan akhirnya mereka berdua setuju. Gareng kemudian diangkat menjadi anak tertua (sulung) dari Semar. Gareng adalah purnakawan yang berkaki pincang. Selain itu, cacat fisik Gareng yang lain adalah tangan yang ciker atau patah. Diceritakan bahwa tumit kanannya terkena semacam penyakit bubul.

Gareng itu berkaki pincang, hal ini mengandung sanepa bahwa dalam setiap melangkah dalam laku kehidupan harus hati2, tidak grusa-grusu, seperti para Bikhu yang setiap langkahnya selalu hati2 karena takut menginjak semut atau binatang kecil lainnya. ada salah paham dalam berfalsafah jawa "alon2 waton kelakon" waton ini maksudnya asal2an, ibarat memasak makanan yang penting matang. Maka perlu dikoreksi menjadi "alon2 maton kelakon" alon2 itu kehati-hatian, maksudnya selalu menggunakan hati dalam setiap laku dan hati itu dekat dengan roso atau rahsa. maton bisa diartikan tepat sasaran, sedangkan kelakon adalah berkat ridhoNya segala lakunya diterimaNya.

Gareng itu ciker/ceko atau patah, megandung pesan bahwa tidak boleh mengambil sesuatu yg bukan haknya, dalam hal ini Gareng jauh dari sifat ingin mengambil hak orang lain bisa berupa mencuri atau korupsi. Bisa juga ceko diartikan bahwa segala perbuatan itu harus dengan ridhoNya, tangan hanya alat bagi empunya.

Garing bisa juga gering artinya kering atau kurus, maksudnya rajin dalam bertirakat atau bertapa sehingga badannya gering atau garing tapi kuat dalam bersyukur. orang bertapa memohon petunjukNya memang secara fisik menjadi lemah tapi secara rohani menjadi sangat kuat. Apabila selalu bersyukur maka fisik akan dikuatkan menjadi gareng, setiap kenikmatan apabila kita syukuri akan selalu dilipat gandakan oleh YME. Tapi apabila kenikmatan itu tidak kita syukuri maka akan menjadi garong yang mengambil hak orang lain secara paksa. maka cukuplah kita menjadi gareng yang selalu bersyukur walaupun secara fisik memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu Gareng tidak pernah berkeinginan menjadi Ratu karena bisa menjadikan dirinya menjadi garong, Gareng cukup menjadi kawula alit(wong cilik) yg pandai bersyukur dan hati2 dalam bertindak.

19 comments:

  1. wah, info ttg salah satu punakawan ini lengkap dan menarik, mas tono. punakawan merupakan simbol bagi rakyat kecil yang selalu passah dan nrima ing pandum, tidak serakah. semoga saja gareng tetep istikomah jadi gareng. mending garing ketimbang jadi garong, hehe ...

    ReplyDelete
  2. @pak sawali
    memang semua punokawan dibawah kisemar itu mewakili rakyat jelata....yg ikhlas dan mengayomi pemimpin yg berwatak ksatria....dan disamping ki togog yg mengingatkan pemimpin yg dzalim

    ReplyDelete
  3. hehehe.. Salam sayang dari embah gendut.. cerita yang menarik mas.. mengenai masyarakat sekarang ini.. mau garing apa mau garong..
    Salam Sayang

    ReplyDelete
  4. "ngelirik ke atas"
    gini aja kangboed, enaknya kalau gareng yang gering jadi garong kita goreng aja sampai garing
    salam taklim...

    ReplyDelete
  5. menarik sekali ulasannya

    titip pesan buat para calon pemimpin bangsa
    kalau sudah jadi pemimpin janganlah lupa kepada pamongnya, para panakawan

    ReplyDelete
  6. @tomy
    betul mas...
    btw makasih dah ampir ke gubug saya...

    ReplyDelete
  7. Salam jumpa Mastono.

    Senang sekali saya bisa mampir disini,yang banyak menjadi sumber inspirasi kehidupan.
    Memang paling tentram itu hidup yg sewajarnya,penuh syukur dan selalu hati-hati dalam kehidupannya seperti "Gareng".
    Namun juga tidak terlalu tirakat sampai "Garing"hingga sakit mah,atau terlalu royal-kalau uangnya habis menjadi "Garong"
    Namun tetap bekerja mencari "DUIT"..............
    D[doa] U[usaha] I[iman] dan T[takwa]

    Salam sejati.

    ReplyDelete
  8. @yangkung
    makasih yangkung dah mampir ke gubuk saya...
    betul sekali yang itulah yg saya maksud...bahwa segala nikmat harus kita syukuri atau kita akan menjadi garong..
    nuwun

    ReplyDelete
  9. Di sebelah sana ada Togog dan Semar. Di sini ada Gareng, Petruk dan Semar.

    Tolong ceritakan tentang, Bagong dong.

    ReplyDelete
  10. @kang kombor
    yah ntar nunggu giliran sambil nyari "wangsit" bwat posting .... :D

    ReplyDelete
  11. Apa "alon-laon asal kelakon" nggak bisa di-matching-kan dengan "lebih cepat lebih baik"?

    Salam Brrrrr jalan mencari wangsit!

    ReplyDelete
  12. @segar
    bisa aja asal bukan lebih cepat lebih ngawur... qiqiqiqi

    ReplyDelete
  13. ki nartosabdo pernah memberikan julukan gareng ini dengan toronganko kilcang = moto kero tangan ceko sikil pincang, dan falsafahnya persis seperti yg diuraikan di atas

    ReplyDelete
  14. @sukarnosuryatmojo
    makasih ki atas masukannya...yg mata kero blom saya jelaskan lhawong saya baru tahu je...

    ReplyDelete
  15. Penuh arti mas.. jadi kita harus dalam keadaan gareng, garing dan garong ga ideal..

    ReplyDelete
  16. @danta
    yayaya...idealnya memang gareng...tapi siapa yg mau jadi gareng...semua pengin jadi satria kek arjuna...

    ReplyDelete
  17. garang ae, nek saya.. anget, iso galak.. yo garang

    ReplyDelete
  18. nek aku milih dadi garengpung......

    ReplyDelete
  19. Mampir nich...
    menarik sekali blog anda, dan saya sangat suka..
    Salam....
    oh ya ada sedikit info nich tentang bibit jabon dan kayu jabon semoga bermanfaat...

    ReplyDelete