Saturday, August 8, 2009

Gothak Gathik Gathuk Huruf Jawa

Setelah beberapa artikel sebelumnya saya wayangan dengan Noto dan Tono, maka kali ini saya akan sedikit berbagi tentang aksara jawa dan gothak gathiknya tapi dalam arti yg bukan dipaksakan dan lebih ke arah filosofinya, perlu diketahui bahwa pada umunya bahkan dari dulu urutan huruf jawa adalah

  ha   na   ca   ra   ka



  da   ta   sa   wa   la



  pa   dha  ja   ya   nya



  ma   ga   ba   tha  nga

huruf jawa memang beda dengan huruf latin, cina, bahkan arab, salah satu keunggulan huruf2 jawa adalah urutannya apabila dibaca maka akan menyusun sebuah kalimat yang mempunyai makna filosofi tersendiri, makna dari baris perbaris urutan huruf diatas adalah:

ha na ca ra ka  bermakna filosofi utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan )


da ta sa wa la  mempunyai makna manusia setelah diciptakan sampai dengan data ” saatnya ( dipanggil ) ” tidak boleh sawala ” mengelak ” manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan

pa dha ja ya nya  bermakna menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Maksdunya padha ” sama ” atau sesuai, jumbuh, cocok ” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu ” menang, unggul ” sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan ” sekedar menang ” atau menang tidak sportif

ma ga ba tha nga  bermakna menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

Setelah kita mengetahui makna perbaris maka akan kita bahas makna perhuruf, makna filosofi per huruf dikemukakan oleh Pakubuwono IX, berikut adalah makna filosofi per huruf:

Ha Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci

Na Nur candra,gaib candra,warsitaning candara-pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi



Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi-satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal

Ra Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani

Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana – hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam

Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya

Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – mendasar ,totalitas,satu visi, ketelitian dalam memandang hidup

Sa Sifat ingsun handulu sifatullah- membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan

Wa Wujud hana tan kena kinira – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas

La Lir handaya paseban jati – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi

Pa Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah

Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar

Ja Jumbuhing kawula lan Gusti -selalu berusaha menyatu -memahami kehendak Nya

Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah /kodrat Illahi

Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – memahami kodrat kehidupan

Ma Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin – mantap dalam menyembah Ilahi

Ga Guru sejati sing muruki – belajar pada guru nurani

Ba Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam

Tha Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai – tumbuh dari niatan

Nga Ngracut busananing manungso – melepaskan egoisme pribadi -manusia

Sebuah ide cemerlang dalam penyusunan huruf jawa dikemukakan oleh Prof.Dr. Damardjati Supadjar, beliau menyusun susunan huruf2 yang biasanya seperti pada tulisan diatas menjadi:

  ka   ma   ba   tha   ra



  ga   da   sa   nya   ta



  na   la   pa   dha   nga



  ja   wa   ha   ca   ya


saya kira susunan huruf2 jawa diatas sangat relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia pada umunya dan jawa pada khususnya, makna perhuruf tetap sama namun makna perbaris berbeda, berikut adalah makna perbaris susunan diatas

ka ma ba tha ra mempunyai makna filosofi hendaknya wiji/biji/sperma itu jangan di sia siakan dalam arti banyak sekali tempat2 prostitusi di negeri kita tercinta ini yang semuanya menawarkan untuk mengecer-ecer wiji secara berbayar, semuanya itu hendaknya segera diakhiri mengingat satu tetes wiji itu sama nilainya dengan 100 tetes darah bagi yang percaya, hendaknya pula energi yg ada disekitar pusar kita di purba diri untuk di alirkan ke atas ubun2 atau dari cakra pusar ke cakra ubun2 bukannya malah dialirkan kebawah melalui kemaluan atau mengecer-ecer wiji. didalam kearifan jawa ada istilah titis, tetes, tetes, titis itu maksudnya tepat sasaran, tetes itu maksudnya menetes, sedangkan tetes yg kedua maksudnya tetas, apabila digabungkan ketiganya bisa ditarik kesimpulan perlu untuk menitis memusatkan pikiran dan hati supaya tetes yg akan ditetas itu menjadi pribadi pilihan, maka tidak heran apabila ahli meditasi itu apabila berhubungan badan jarang sekali ejakulasi karena energi yg biasanya disalurkan kebawah menjadi disalurkan keatas, para ahli meditasi itu hanya akan tetes apabila pada waktu akan membuahi, itupun cuma sedikit atau seperlunya tapi mempunyai kualitas yang unggul. Disisi lain titis tetes tetes itu dimaksudkan menitiskan pada bathin kita untuk melahirkan diri yg berkesadaran tinggi atau berkesadaran rohani, dengan kata lain diri kita yg biasanya berkesadaran jasmani yg penuh ketergantungan duniawi bertransformasi ke berkesadaran rohani yg bebas dari polusi dunia, inilah makna hijrah yg sebenarnya.

ga da sa nya ta mempunyai makna gada itu bermakna senjata gada, sanyata itu nyata, makna filosofinya adalah apabila kita sudah melakukan titis tetes tetes secara batiniyah maka kita akan mempunyai senjata yg nyata dalam hal utk menghadapi krisis multidimensi yaitu diri yang sudah meninggalkan dunia sebelum meninggal dunia dan inilah pribadi pilihan

na la pa dha nga  mempunyai arti hati yang terang, orang yang sudah sadar rohani itu hatinya terang sebab tiada suatu apapun yg menghalangi hatinya dari pancaran Nur illahi, hati orang yg sudah berkesadaran rohani bebas dari polusi dunia baik berupa ketergantungan materi maupun ego kedirian yang keapian yang suka mengaku-aku sepihak dalam kata lain ego yg sombong tidak mau sujud kepadaNya.

ja wa ha ca ya  mempunyai arti apabila hati kita sudah terang benderang karena tiada satupun yg mengotorinya maka "hujan' cahaya maha cahaya Nur illahi akan terjadi dan menyinari setiap pribadi pilihan tsb untuk dipantulkan ke pribadi yang lain dan juga makhluk disekitarnya dalam bentuk kerja nyata secara ikhlas karena Tuhan bukan karena yg lainnya, perlu diketahui nur Tuhan itu indah tanpa batas, hanya ego kita yg menghalanginya, apabila tidak ada lagi ego di diri kita maka tidak ada lagi yg menghalanginya.

Sampai saat ini saya percaya bahwa pribadi pilihan yg unggul atau satrio piningit itu bukan dalam arti perorangan, tapi dalam arti kelompok orang2 yg sudah berkesadaran rohani, jadi tidak ada alasan bagi orang yg ngaku2 satrio piningit atau Imam mahdi, ratu adil, dsb, karena pengakuan sepihak itu salah satu dari ego keapian yg sombong, lalu siapa satrio piningit sebenarnya? kita lah satrio piningit itu, dalam arti diri kita yang berkesadaran rohani yg kita kurung dengan ego keapian dan ketergantungan materi harus kita bebaskan untuk menjadi pemimpin di diri kita, soal siapa yg muncul di permukaan hanyalah simbol belaka tapi pada hakekatnya ya kita ini.

Demikianlah adanya usaha saya untuk gothak gathik gathuk huruf2 jawa dalam arti secara filosofis bukan dalam arti yg dipaksakan, seperti dalam artikel2 saya sebelumnya dan insya Allah pada artikel2 mendatang, saya hanya ingin sedikit berbagi rasa untuk kita bertransformasi dari kesadaran jasmani ke kesadaran rohani, semoga bisa bermanfaat.

blog comments powered by Disqus