Thursday, October 1, 2009

Menggapai Cahaya Dibalik Awan Kelabu



Mari kita lupakan sejenak wayangan antara Tono dan Noto, kali ini kita akan membahas tentang nikmat dari sebuah musibah, musibah datang silih berganti di negeri ini mulai dari tsunami di Aceh, gempa di Nabire, gempa di Yogya, gempa dan tsunami di Pangandaran, lumpur di porong Sidoarjo serta gempa di Padang dan sekitarnya baru2 ini serta bencana2 lain yg tidak disebutkan satu persatu.

Mengapa saya sebut sebuah musibah adalah nikmat, sebagai contohnya adalah Imam Ghazali berdoa agar diberi musibah yg bisa mendekatkan dirinya dengan Allah, lalu dimana letak rasa kemanusiaannya serta rasa keadilan disaat orang lain sedang berduka karena kehilangan rumah, sanak saudara dan harta, tapi ini kok mengharap suatu musibah. Untuk lebih jelasnya adalah begini, kita itu kalau mau memperhatikan bahwa diberi ujian musibah itu lebih gampang lulusnya dibanding diberi ujian yg berupa kenikmatan, ketika harta kita ludes terbakar oleh kebakaran atau tertimbun tanah longsor maka kita akan langsung teringat Tuhan, kita berdoa sekuat tenaga serta mohon ampun kepadaNya atas musibah yg menimpa kita, sedangkan apabila kita diberi kekayaan apalagi kaya mendadak, apa ya kita bisa ingat kepada Allah seperti ketika kita ditimpa musibah, paling paling hanya berucap "alhamdulillah" disaat kita ketiban rejeki tersebut, setelah itu kabanyakan kita lupa, inilah yg disebut "ora kuat drajat" seperti kata orang jawa.

Musibah sebagai adzab

Ketika suatu kaum atau masyarakat itu sudah parah tingkat kerusakan akhlaknya maka Allah menurunkan adzab seperti kisah nabi Nuh as, nabi Luth as, nabi Musa as dsb. Kaum kaum tersebut adalah yg sudah sangat parah kerusakan moralnya sehingga tidak mungkin diobati atau harus diamputasi seperti didalam istilah kedokteran, kaum2 tersebut seperti membuat neraka di tempat mereka sendiri dan mereka diami layaknya surga, lho apa salahnya kita mendiami suatu tempat yg orang lain anggap itu tempat maksiat dan penuh dosa sedangkan bagi kita sendiri itu adalah surga? tentu standar kenikmatan itu bukan standar kepuasan nafsu bahkan nafsu itu tidak akan pernah puas walaupun dituruti terus menerus, sebagai contoh: dulu saya berpuas ria menggunakan komputer berprosesor intel i386, kemudian melihat i486 hati saya tergoda untuk membelinya karena lebih canggih dan cepat, kemudian saya tergoda lagi dengan pentium 1, pentium 2, pentium 3, pentium 4, core II duo, core i9 dsb, samapi dimanakah kepuasan saya dengan prosesor komputer yg saya miliki, sampai kapanpun setiap ada produk baru maka akan saya beli demi kepuasan kata nafsu saya, inilah contoh standar kenikmatan dengan nafsu yang sejatinya adalah reaksi kimia sesaat dari kelenjar di otak kita. Sesungguhnya bagi kita yang terus menerus memuaskan hawa nafsu kita pada dasarnya kita yg dikuasai nafsu kita sendiri, apabila terus menerus terjadi pada kita maka bukan tidak mungkin kejadian di nabi2 yg saya sebutkan diatas berlaku buat kita sendiri dan juga standar kenikmatan yg berdasarkan nafsu itu bisa lebih merusak apabila dibarengi dengan perusakan alam serta merebut hak2 orang lain.

Musibah sebagai nikmat 
Ketika suatu musibah melanda suatu kaum dan kaum yg kufur atau tidak bersyukur itu menganggap sebagai kutukan maka bagaimana keadaan orang orang mukmin ditempat musibah itu? orang orang mukmin itu ya tetap mendapat musibah sama seperti yg lainnya, bedanya adalah cara mensikapi keadaan tersebut, sebagai contoh maka akan saya sajikan mini dialog dengan orang yg kurang/tidak syukur dan dengan orang syukur

kurang syukur : "duuuuuh gimana ini...anakku...istriku...semuanya mati...dan hartaku juga amblas karena gempa.....duh Gusti tega2nya Engkau mengambil semua jerih payahku padahal aku sudah sholat lima waktu dan mengerjakan perintahMu dan menjauhi laranganMu, tapi masih saja Engkau memberikan aku musibah...dasar siaaaallll....!!"
Noto : "mengapa bapak berkata begitu, tidak baik menyalahkan Tuhan?"
kurang syukur : "kamu itu tahu apa?, kamu tidak merasakan dengan apa yg aku rasakan bagaimana aku ini aktif di masjid dan sekarang apa balasan Tuhan kepadaku...semuanya amblas dan musnah...."
Noto : "istighfar pak, semua ini hanya cobaan.."
kurang syukur : "istighfar...istighfar...dengkulmu kuwi....mau istighfar sampai seribu kali pun hartaku gak akan balik serta anak dan istriku ndak bakalan hidup lagi....ini juga pasti salahnya presiden A, ngapain dia menjadi presiden lha wong semenjak dia jadi presiden sering terjadi bencana, semua ini pasti salah dia, coba kalau orang lain yg menjadi presiden pasti ndak bakalan ada bencana seperti ini..."

syukur : "ya Allah ampunilah dosa dosa hambamu ini, engkau pasti memberikan yang terbaik bagi anak dan istri hamba yg telah engkau panggil juga hikmah yg besar dibalik musibah ini.."
Noto : "mengapa bapak malah mohon ampun disaat terkena musibah serta tidak bersedih karena harta, anak dan istri bapak diambil oelh Allah?"
syukur : "tentu saja saya sedih karena ditinggal anak serta istri saya, tapi mungkin ini jalan terbaik buat mereka untuk menghadapNya disaat mereka tertidur lelap dan semoga mereka itu termasuk golongan orang2 yg mati syahid"
Noto : "lho bukannya bagus kalau mereka masih hidup dan harta bapak juga amblas, bapak ini aktif di masjid dan bapak termasuk yang kuat beribadah, apa ya bapak rela mendapat balasan seperti ini dari Allah?"
syukur : "semua ini hanya titipan, kalau anak dan istri saya diambil olehNya saya ndak bisa apa2 karena semua itu kehendakNya, sedangkan harta bisa saya cari lagi, mungkin saya pelit untuk beramal sodaqoh dengan sesamanya juga mungkin banyak harta saya yg haram sehingga Allah mengambil milikNya kembali
Noto : "bapak ini sungguh orang yg sholeh, apa bapak tidak menyalahkan orang lain yg tidak sesholeh bapak sehingga bapak kena getahnya juga dari musibah ini?"
syukur : "saya ini bukan orang sholeh mas, banyak yg lebih baik dari saya, tidak baik kita menyalahkan orang lain walaupun kita tahu mereka banyak berbuat dosa, lebih baik kita introspeksi diri karena ini lebih bermanfaat, tidak baik juga menyalahkan si A yg sebagai presiden lalu banyak bencana, beliau sudah semaksimal mungkin untuk memberikan yg terbaik, coba kalau kita jadi presiden apa ya kita mampu? semoga segala musibah ini bisa memberikan hikmah dan pelajaran yg besar bagi kita semua dan kita bisa bertransformasi diri untuk menuju yg ke lebih baik"
Noto : ' saya kagum dengan bapak, saya jadi belajar banyak dari anda, semoga segala harapan dan doa bapak dikabulkan Allah SWT"

Ini hanya dialog imajinatif yg ekstrem, tentu saja saya berharap semua orang yg ditimpa musibah bisa seperti dialog yg kedua dan sangat tidak berharap menjadi pada seperti di dialog ke satu. Dari contoh ekstrim diatas, dapat dilihat bahwa orang yg kelihatan khusuk beribadah belum tentu hatinya bisa tetap khusyuk ketika ditimpa musibah, pada dialog ke satu disebukan bahwa orang kesatu/kurang syukur itu adalah aktivis masjid seperti halnya pada orang kedua, yg membedakan adalah sikap dan akhlak pasca terkena musibah, pada kasus orang kesatu disebabkan karena dia dalam berdakwah di masjid kurang ikhlas sehingga mengharap balasan yg bagus2 dari Allah, karena dia kurang introspeksi diri sehingga mudah untuk menyalahkan orang lain, karena kurang sabar dalam berdakwah maunya pingin cepat beres dalam menyadarkan umat yg diceramahinya sehingga berdampak pada kurang sabar dirinya ketika ditimpa musibah hingga berakibat keputus asaan, semua hal itu berakibat pada ketidak syukuran dirinya kepada Allah. Sedangkan pada kasus orang kedua ini sudah khusyuk lahir batin dalam berdakwah sehingga berdampak pada dirinya yg walaupun tidak siap menerima musibah tapi tetap bisa introspeksi diri dan menjadikan hikmah atas dirinya sehingga berujung ke rasa sabar, ikhlas dan syukur dalam segala kondisi dan situasi, dan sebagai hadiah dari itu semua adalah kenikmatan yg tak terbendung dari Allah walaupun ditimpa musibah dan bencana.

Segala musibah adalah semakin mendekatkn diri kepadaNya
Bagi yang percaya dan yakin, setiap musibah adalah jalan untuk semakin mendekatkan diri kepadaNya, walaupun ini terlihat agak muluk2 dan sulit di jalani namun tidak ada salahnya untuk kita mencoba menata hati ketika ditimpa musibah, untuk memahami hal ini maka mari kita simak kelanjutan dari dialog antara Noto dengan kurang syukur dan syukur.

Noto : "lalu apa yg akan bapak lakukan setelah ditimpa musibah ini?"
kurang syukur : "aduh saya tidak bisa apa2 lagi, saya pinginnya mati saja karena tidak punya apa apa lagi atau setidaknya saya akan berhenti berdakwah karena saya marah dan kecewa kepada Allah atas segala adzab yang Dia timpakan kepada saya tidak sebanding dengan apa yg saya berikan ke Dia"
Noto : "bapak tidak boleh berkata begitu, semua itu pasti ada hikmahnya, Allah pasti akan memberikan ganti yg terbaik buat bapak"
kurang syukur : "ganti apaan, dari dulu saya berdakwah di masjid setiap minggu bahkan tiap hari saya memberikan nasehat kepada orang2 yg membutuhkannya tapi sekarang apa balasannya, saya minta kebahagiaan Allah nggak ngasih, saya minta harta Allah juga nggak ngasih, sekarang malah Allah mengambil apa yg saya punya, inikah keadilan?? baiklah mungkin sudah menjadi takdir saya untuk menjadi ustadz di masjid dan takdir saya pula untuk ditinggal sama anak dan istri saya dan takdir saya pula untuk tidak menjadi ustadz lagi dan kalau saya mati karena bunuh diri maka itu juga takdir"
Noto : "astaghfirullah, semoga Allah mengampuni bapak dan pesan saya adalah jangan kita memutuskan dari rahmat Allah, itu adalah perbuatan aniaya diri sendiri"

Noto : "lalu apa yg akan bapak lakukan setelah ditimpa musibah ini?"
syukur : "saya akan bangkit dari keterpurukan ini, walaupun saya terpuruk didalam kekayaan tapi batin saya insya Allah semakin kuat dengan musibah ini, saya merasakan betapa nikmatnya berada didekat anak dan istri setelah mereka tidak ada dan setelah mereka tidak ada kenikmatan itu tetap ada karena banyak yg lebih parah dari saya dan nyawa saya masih selamat karena Allah"
Noto : apakah bapak merasa ini adalah takdir untuk ditinggal anak dan istri serta kehilangan harta?"
syukur : "ini memang sudah takdir Allah dalam arti saya tidak bisa mengelak semua ini, ingat bahwa  dulu cobaan bagi para nabi jauh lebih berat dari yg saya alami dan mereka tetap sabar dan ikhlas dalam menerima cobaan, itulah akhlak dari para nabi yg harus kita contoh, oleh karena itu saya akan tetap seperti semula bahkan insya Allah lebih baik lagi dalam menata hati saya karena rasa syukur kita kepada Allah akan semakin menghidupi kita, rasa sabar akan membuat kita semakin tawaduk bahwa kita bukan apa2, serta ikhlas adalah segalanya dalam segala kondisi dan situasi, dengan ikhlas maka segala ego kepemilikan pribadi kita menjadi nol karena semua sudah kita labuhkan ke Maha Kaya sehingga tidak ada lagi alasan untuk putus asa dan bunuh diri, karena dengan syukur, sabar dan ikhlas maka kita akan diberi takdir yg terbaik disisiNya, sedangkan kalau kita putus asa dan bunuh diri maka itu bukan takdir yg terbaik, itu adalah salah2 kita sendiri bukan karena Allah"
Noto : "subhanallah, sungguh mulia bapak ini, semoga Allah memberikan kenikmatan dari musibah ini berupa cahayaNya yg tidak disekat oleh ruang dan waktu serta tidak menyilaukan mata maupun hati, dengan melakukan apa yg seperti bapak sampaikan maka anda telah menggapai cahaya dibalik awan kelabu, habis gelap menuju cahaya, sesungguhnya gelap itu tidak ada yg ada adalah ego kita yg menutupi cahayaNya dan bapak berhasil menyingkirkan ego kesombongan bapak sendiri sehingga mencapai pencerahan dari nur Allah yang tidak pernah padam dan abadi disisiNya"

Dari dua dialog diatas maka jelaslah dialog kedua yg menjadi panutan, segala ketidak sabaran dan ketidak ikhlasan akan berujung pada ketidak syukuran kita kepada Allah, sebaliknya sabar dan ikhlas akan berujung pada puncak dari rasa syukur kita kepada Allah, rasa syukur itu adalah kenikmatan, segala kenikmatan akan dilipat gandakan Allah apabila kita bersyukur, maka dari itu sabar ketika ditimpa musibah dan syukur ketika diberi kenikmatan bisa dilatih dengan puasa dawud atau sehari berpuasa sehari berbuka maka lama2 kita akan sabar dan syukur dalam segala situasi dan kondisi.

Penutup
Dengan berbagai bencana yg melanda negeri ini maka dengan segala keterbatasan dan kebodohan saya, ijinkan saya mengajak saudara saudara sekalian untuk bisa menata hati menggapai cahaya Illahi ketika ditimpa musibah, sebab musibah itu adalah sebuah kesempatan emas untuk latihan menata hati kita supaya kita bisa tetap sabar, syukur dan ikhlas dalam segala situasi dan kondisi. Semoga musibah musibah ini bisa menjadi momentum kita untuk bertransformasi diri menjadi lebih baik dan semakin mendekatkan kita kepadaNya.

blog comments powered by Disqus