Tuesday, December 15, 2009

Persepsi dan Imajinasi Ala Buto



Karena ini adalah artikel imajinasi dan persepsi maka saya juga berimajinasi dengan dua makhluk imajinasi saya seperti biasanya supaya tidak ada kesan menggurui, anggaplah ini sebuah dialog imajinatif di diri kita antara diri yg berkesadaran lumrah dengan diri yg dipantulkan oleh cermin yg sangat bening.

Tono : "kamu tahu nggak apa itu ilusi?"

Noto : "secara umum pengertian ilusi itu secara singkat adalah distorsi dari sistem penginderaan kita"

Tono : "lalu kalau persepsi apa hayoo?"

Noto : "persepsi itu proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi"

Tono : "naaah sekarang kalau imajinasi apa coba?"

Noto : "imajinasi itu adalah kekuatan atau proses menghasilkan citra mental dan ide"

Tono : "lhaa itukan hanya pengertian secara formal to, kalo itu aku dah tahu wong pengertian itu mirip pengertian di mbah wiki...hihihihi....ayo dong sekarang jelaskan secara terperinci menurut persepsi bocor alusmu yo bocor alusku...hihihihi"

Noto : "kalau pengertian lengkapnya akan aku jelaskan dengan contoh dan perumpamaan seperti biasanya, contoh dari ilusi adalah ketika kamu dihipnotis dan diberi sugesti untuk merasakan air dingin menjadi panas maka kamu telah didistorsikan syaraf2 di otak kamu dari informasi yg sebenarnya menjadi sedikit melenceng, dalam hal ini otak lah yg telah didistorsi"

Tono : "kamsudnya apa secara ilmiah dong?"

Noto : "kalau secara analogi dengan sistem biner ketika data 000110010 diubah menjadi 000110011 maka informasi yg telah dimanupulasi itu menjadi menyimpang jauh ketika diterima dan diterjemahkan dipusat syaraf"

Tono : "hmmmm..iya ya...sedikit saja infromasi yg dibawa oleh syaraf pembawa informasi itu diubah maka bisa berakibat fatal ketika masuk ke sistem syaraf pusat untuk diterjemahkan"

Noto : "tapi ini hanya bisa dimanipulatif lewat inderawi baik melalui mata, telinga, peraba, bahkan perasa dan penciuman kalau si tukang hipnotis itu sangat mahir, sedangkan pada kasus bius itu sudah melalui obat2an maka bukan ilusi lagi namanya tapi berefek menghasilkan ilusi, contohnya : memakai drugs maka si pemakai akan berilusi ketemu pacarnya, melayang dsb"

Tono : "naah sekarang kalau penjelasan persepsi secara bocor alusmu itu?"

Noto : "seperti biasa contoh dari persepsi itu : apabila ada seseorang yg sedang mencongkel jendela disebuah rumah dan dilihat oleh A dan B, si A berpersepsi orang itu maling karena sudah jelas2 jendela yg tertutup kok dicongkel, sedangkan si B berpersepsi orang itu kehilangan kunci rumahnya sendiri karena orang itu sangat dikenal oleh si B dan bukan maling karena si B tahu orang itu adalah pemilik rumah yg dicongkel jendelanya itu"

Tono : "maksudnya apa itu?"

Noto : "didalam berpersepsi, informasi yg benar itu sangat penting supaya tidak salah paham, pada kasus si A dia menuduh orang itu pencuri sebab dia tidak tahu siapa orang itu sebenarnya, sedangkan pada si B dia tidak menuduh pencuri sebab dia tahu jati diri orang itu sebagai pemilik rumah yg sah"

Tono : "nah itu persepsi yg menurutmu informasilah yg menentukan pas tidaknya suatu persepsi, sekarang kalau imajinasi itu bagaimana"

Noto : "dengan contoh saja yaa....si A berimajinasi pesawat itu burung emprit raksasa karena dia hanya mendengar cerita orang2 yg pernah melihat pesawat bahwa pesawat itu seperti burung katanya, sedangkan si B berimajinasi pesawat terbang itu ya seperti pesawat terbang biasa dan didalamnya terdapat pramugari2 yg cantik karena si B sudah pernah melihat pesawat bahkan masuk didalamnya, lain lagi si C yg berimajinasi pesawat itu bagaikan burung garuda sebab dia pernah melihat burung garuda besar yg dikiranya pesawat terbang.........dalam hal ini yg berperan didalam imajinasi adalah informasi, persepsi dan pengalaman langsung"

Tono : "wah jadi kalau gitu antara ilusi, persepsi dan imajinasi itu saling terkait ya? wah bisa repot ntar, jangan2 apa yg kulihat sehari hari ini hanya ilusi yah?"

Noto : "sebaiknya kamu ndak usah dipusingkan dengan hal2 yg seperti itu, toh semua ciptaanNya kan hanya imajinasiNya, yaitu bayangan diriNya melalui ciptaanNya"

Tono : "waduuuh, mumet aku, lalu mengapa kita malah berimajinasi terhadap wujud Tuhan sedangkan kita sendiri malah imajinasiNya belaka?"

Noto : "lha inilah repotnya kita ketika berupaya menjangkau sesuatu yg jauh diluar nalar kita tapi kita paksakan untuk masuk kedalam imajinasi kita"

Tono : "contohnya?"

Noto : "aku kasih contoh betapa terbatasnya nalar dan imajinasi kita tapi biasanya kita menganggap imajinasi kita tak terbatas walaupun aslinya ada batasnya juga, gini misalnya : aku punya bola yg aku susun membentuk garis dengan panjang tak terhingga lalu berapakah jumlah bola yg aku susun itu?

Tono : "tentu saja tak terhingga  guwowowoblook...anak kecil saja tahu itu"

Noto : betul sekali, lalu aku tambahin misalnya aku susun bola itu menjadi membentuk bidang dengan panjang tak terhingga dan lebar tak terhingga, lalu berapakah jumlah bola dibidang itu?"

Tono : "yaa tak terhingga juga to"

Noto : "betuul sekali, lalu banyakan mana antara tak terhingga yg garis dengan tak terhingga yg bidang, yang mana tak terhingga yg bidang itu garis kali garis?"

Tono : "hmmm iya juga sih, kalau nalarnya maka yg bidang itu lebih banyak sebab bidang itu jumlahnya garis kali garis, itu sama saja tak terhingga kali tak terhingga, tentu saja lebih banyak yg tak terhingga kuadrat"

Noto : "naah itulah indikasi bahwa imajinasi dan nalar kita sungguh terbatas didalam memahami bidang saja tidak mampu, maka dari itu tak terhingga itu demi bisa kita jangkau didalam imajinasi kita maka dibuatlah simbol ~, dengan simbol itu sebagai perwakilan tak terhingga itu bisa masuk kedalam imajinasi kita"

Tono : "ooo balik ke leptop...jadi manusia membuat simbol2 Tuhan supaya bisa menjangkau yg Maha Tak terjangkau itu yah...hhhmmm apa bisa ya bertuhan dengan imajinasi kita melalui simbol?"

Noto : "memang pada awalnya kita berimajinasi tentang Tuhan apakah Dia itu diatas, didepan, berwujud gumpalan energi dsb, tapi ini hanya diperkenankan pada awal2 tahap keimanan kita, tapi selebihnya kita harus bisa menguraikan apa yg kita simbolkan atau yg kita imajinasikan menjadi tak terhingga dan jauh melampaui dari apa yg kita imajinasikan"

Tono : "caranya gimana?"

Noto : "semua itu berproses dan bertahap, asalkan kita mau terus belajar dan tidak sombong merasa sudah benar atau paling benar"  

Tono : "maksudnya tidak ngeyel seperti aku ini yah?...hmmm nyindir nih...."

Noto : "aku contohkan saja yah, tapi kamu maknai sendiri.......Budi sedang menggambar sebuah pemandangan beserta gambar rumah, gambar Anto dan gambar Dewi sendiri, didalam gambar itu disertai dialog imajinatif melalui tulisan, tulisannya begini : "eh Dewi kamu tahu ndak, kira2 Budi pencipta kita itu dimana sih?"....."dia itu tidak bisa dilihat mata tapi keberadaanya meliputi kita semua"......."lho seharusnya dia ada dong disekitar kita, dia itu pasti gunung itu to, wong dia paling besar sih"...."gunuung itu juga terliputi olehnya sebab gunung itu ciptaan dia juga" ....."alaah pokoknya kalau tidak kelihatan wujudnya ya berarti tidak ada"........"terserah kamu Dewi, tapi dibalik gunung yg ciptaannya itu terdapat Budi yg sejati"......nah itu tadi merupakan sebuah dialog imajinatif dimana menyimbolkan bahwa dari imajinasi itu pasti ada yg sejati asalkan kita tidak ngeyel"

Tono : "lho apa salahnya ngeyel kalau kita sudah benar?"

Noto : "ingat bahwa rasa benarmu itu bisa jadi karena persepsi sepihakmu tentang informasi yg kamu terima, karena kamu ngeyel maka kamu seolah olah sudah merasa benar dan paling benar, padahal sesungguhnya kebenaran sejati itu tidak bisa diaku aku sepihak, misalnya kasus contoh gambar Budi tadi, gunung itu gambar Budi, Anto itu gambar Budi, dan Dewi itu gambar Budi juga, tapi gambar Budi bukan gunung, karena gambar Budi tidak hanya gunung"

Tono : "berarti kalau kita ngeyel akan terperangkap didalam imajinasi dan persepsi kita sendiri yah?"

Noto : "tidak hanya itu tapi juga terperangkap didalam ilusi sendiri juga, kalau kita ngeyel dengan menganggap bahwa yg kita persepsikan dan kita imajinasikan itu Tuhan kita maka kita sama saja menyembah atau manembah kepada Tuhan imajinasi ciptaan kita sendiri, mosok menyembah kepada ciptaan sendiri, malah kebalik to?"

Tono : "lalu bagaimana memahami Tuhan yg sejati yg katamu "tan kena kinaya ngapa" itu?"

Noto : "berpikirlah bahwa semuanya tidak bisa dipersepsikan dan diimajinasikan kedalam imajinasi dan persepsi kita, pasti ada yg diluar persepsi dan imajinasi kita yaitu imajinasi diatas kita"

Tono : "apa maksud imajinasi diatas kita?...aya aya wae.."

Noto : "pada contoh Budi tadi, Budi menggambar gambar yg berdimensi 2, tapi sesungguhnya gambar itu tidak ada, yang ada goresan2 pensil diatas kertas yg membentuk gambar, sedangkan kita tahu goresan2 itu terdiri dari partikel2 grafit yg tentu saja berdimensi 3 dan kertas itu juga berdimensi 3, maka dimensi 2 itu sejatinya tidak ada.....ketika kita masuk ke dimensi diatas kita yaitu dimensi 4 maka hal seperti contoh gambar Budi juga berlaku, dimensi 3 itu bagaikan gambar didimensi 4 maka sejatinya dimensi 3 dan ruang waktu itu tidak ada, dimensi 4 juga tidak ada ketika masuk dimensi 5 dst.....maka ditarik kesimpulan, dimensi 3 diliputi dimensi 4 yg diliputi dimensi 5 yg diliputi dimensi 6 dst hingga mencapai dimensi tak terhingga....ketika didimensi tak terhingga maka kesaksiannya benar2 total yaitu "semua hanya imajinasi kecuali yg berimajinasi"....tapi jangan berani2 kamu mengaku telah bersaksi total wong membayangkan dimensi 4 aja susahnya minta ampun apalagi dimensi tak terhingga"

Tono : "waaaduuuh pusiiing.....tapi apakah Tuhan sejati itu berdimensi tak terhingga gitu maksudmu?"

Noto : "bisa juga begitu, bisa juga dimensi perdimensian itu semua hanya rekayasa Tuhan semata baik dimensi 0 sampai tak terhingga, jadi Tuhan sejati itu diluar sistem dimensi perdimensian....tapi yang pasti Tuhan sejati itu sungguh diluar nalar, ilusi, persepsi dan imajinasi kita...yang pasti Dia itu ADA, ADA itu tanpa lawan, tiada yg bersaksi atas keberadaanNya kecuali sang ADA sendiri, yang ADA itu merekayasa waktu, merekayasa dimensi, merekayasa Asma dan Sifat dan diujung penciptaanNya sang ADA merekayasa kita semua"

Tono : "jadi sebelum ADA itu apa?"

Noto : "kan sudah aku bilang ADA itu yg merekayasa waktu, istilah "sebelum, sekarang , sesudah" itu istilah waktu linear didimensi 3, sedangkan waktu didimensi 4 itu membidang maka istilahnya lebih dari sekedar "sebelum, sekarang, sesudah" ...lha ini kita membicarakan yg merekayasa dimensi maka istilah "sebelum, sekarang, sesudah" sungguh2 tidak berlaku atas sang ADA...jangan memakaikan sang ADA dengan istilah2 dimensi 3 kita ini"

Tono : "ooo gitu to...jadi kita memang sering memaksakan kehendak kita terhadap sang ADA itu supaya sesuai dengan kehendak kita, tapi apa daya sang ADA itu "tan kena kinaya ngapa" mau diapa-apain juga ndak bisa, sang ADA tetaplah sang ADA, yg ada hanya imajinasi dan persepsi kita tentang sang ADA....lalu bagaimana cara menyembah atau manembah yg baik terhadap sang ADA itu?

Noto : "pertanyaan bagus.....walaupun sang ADA itu sungguh diluar jangkauan kita tapi kita ndak usah pesimis, DIa sang ADA menitipkan sesuatu kepada kita yaitu kesadaran akan keberadaan kita, mengapa kita tahu2 ada? karena sang ADA, karena ada itu dari ADA, dan sang ADA meliputi segala yg ada, inilah ilmu sangkan paraning dumadi....didalam diri kita itu terdapat perangkat yg bisa merasakan jejak sang ADA yaitu hati, didalam hati terdalam terdapat sirr atau rahasiaNya atau telenging rahsa, maka pergunakanlah telenging rahsa itu untuk manembah/menyembah atau sembah roso...caranya dengan membagi segala keakuan, kepemilikan dan amal ibadah dengan bilangan nol/ikhlas....maka hasilnya menjadi tak terhingga.....maka kesaksian kita menjadi "sejatinya tidak ada apa2 kecuali yg berkata"

Tono : "waduuuh...pake bahasa yg lebih gampang to mentang2 pinter dan keminter"

Noto : "pesan sedikit saja yah...hhhmmm...janganlah kita terlalu cinta atau bergantung kepada yg jejadian(makhluk/persepsi/imajinasi) karena apabila begitu maka kita tidak akan menemukan Yang Sejati, tapi kita juga jangan membenci yg jejadian itu karena sesungguhnya dibalik jejadian itu terdapat Yang Sejati"

blog comments powered by Disqus